HANGATNYA PELUKAN IBU KOTA ‘BANJARBARU EMAS’
Oleh: Rudy Azhary
Matanya berbinar, sesekali air mata menetes menyambut kisah yang seharusnya tuntas dan berakhir bahagia bagi mereka yang raganya tak lagi sekuat dulu. Kalbunya membawa hangatnya pelukan kasih seorang “Ibu” di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru. Kasih sayang itu menembus jubah kekuasaannya, melepas semua sekat yang ada demi mendengarkan keluh kesah dan harapan agar mereka bisa bahagia di masa tua.
Erna Lisa Halaby (ELH), Wali Kota Banjarbaru, tampak begitu erat memeluk anak-anak berkebutuhan khusus dengan penuh cinta. Bagi ELH, visi Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera) adalah jawaban nyata. Menakhodai birokrasi sebagai Wali Kota, ia telah merancang kebijakan agar seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan dengan sempurna, meski dalam keterbatasan.
Menghadirkan Negara di Tengah Rakyat
Jauh sebelum rangkaian Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru digelar, ELH hadir di tengah masyarakat untuk memastikan roda pemerintahan beserta kebijakannya tepat sasaran. Ia ingin memastikan hak-hak masyarakat terpenuhi secara manusiawi. Melalui Dinas Sosial Kota Banjarbaru, perayaan hari jadi dimaknai dengan cara yang jauh lebih mewah dari sekadar seremoni: berbagi dengan para lansia dan penyandang disabilitas agar mereka merasakan hangatnya “pelukan” negara.
Pemerintahan di bawah kepemimpinan ELH memadupadankan kewajiban negara dengan kelembutan hati sebagai landasan pengabdian di sektor sosial. ELH ingin memastikan pemerintah bekerja tanpa celah, sehingga tak ada ruang yang membuat warga merasa jauh dari perhatian negara. Sebagai wujud keseriusan, pembaruan data dilakukan secara masif untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal.
Dari Jaminan Kesehatan hingga Perhatian bagi Penggali Kubur
Kebijakan itu menukik tajam, menyentuh relung-relung yang selama ini jarang terjamah. Tak jua luput dari sentuhan, Pemerintah Kota Banjarbaru di bawah instruksi Wali Kota ELH pun merangkul para penggali kubur. Mereka diajak menjadi bagian yang merasakan hangatnya pelukan dan kasih sayang negara sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian yang sunyi namun sangat berarti bagi kemanusiaan.
Selain itu, pembaruan data juga menjadi kunci dalam memanusiakan manusia. Salah satu langkah nyatanya adalah melalui penjaringan intensif bagi para lansia yang belum memiliki jaminan kesehatan. Mereka kini diupayakan masuk dalam barisan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS. Kehadiran negara kian dirasakan; sebanyak 65 lansia kini iuran kesehatannya telah ditanggung sepenuhnya oleh negara melalui kas daerah.
Nyanyian Kedamaian di Fase Kedewasaan Kota
Kebijakan ELH pun terus bergerak melaju. Pendataan menyasar para lansia yang tinggal di rumah-rumah sewa. Pemerintah Kota melalui Dinas Sosial mengalokasikan anggaran daerah sebesar Rp500 ribu per bulan agar mereka bisa bernapas lega tanpa beban pikiran untuk membayar sewa tempat tinggal. Hingga saat ini, Dinsos mencatat sebanyak 18 lansia telah merasakan manfaat dari kebijakan tersebut.
Hingga pada usia ke-27 ini, ELH dan sistem birokrasinya telah melantunkan “nyanyian kedamaian” bagi mereka yang membutuhkan dengan syahdu di tengah peliknya problematika kehidupan ibu kota. Pertanda inilah yang menjadi makna mendalam dalam setiap langkah Kota Banjarbaru menandai fase kedewasaannya.
Bersama Wali Kota ELH, Banjarbaru diajak melintasi kehangatan yang tak hanya indah di pandangan mata, tetapi juga mendasar pada jalannya pemerintahan yang berlandaskan kepedulian untuk mewujudkan Banjarbaru EMAS: memanusiakan manusia dalam keberadaban dan keadilan.
















































