Presiden didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan bertemu tokoh membahas ekonomi dan keuangan nasional di Istana
Nasional, Suratkabardigital.com – Presiden memanggil sejumlah tokoh ke Istana Negara, Jumat (22/5/2029). Dalam pertemuan itu, Presiden didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan untuk membahas pengalaman penanganan krisis ekonomi pada periode sebelumnya serta langkah antisipatif pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan nasional di tengah krisis global.
Sejumlah tokoh yang hadir, kata Airlangga, antara lain Burhanuddin Abdullah, Paskah Suzetta, dan Lukita Dinarsyah Tuwo. Tokoh-tokoh tersebut pernah menjabat sebagai menteri maupun Gubernur Bank Indonesia.
“Tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau Gubernur Bank Indonesia. Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis pada tahun 2008,” ujar Menko Airlangga dalam keterangan pers usai pertemuan.
Lebih lanjut, sejumlah catatan penting, seperti pengalaman menghadapi tekanan ekonomi global, lonjakan harga minyak, tekanan inflasi, dan perubahan nilai tukar menjadi pembahasan. Pada tahun 2005, lanjut Airlangga, Indonesia pernah menghadapi lonjakan harga minyak hingga mencapai 140 dolar AS per barel yang berdampak pada inflasi.
Kondisi ekonomi saat ini, menurut Airlangga, relatif lebih baik dibandingkan sejumlah episode krisis sebelumnya. Bahkan, fundamental ekonomi dinilai lebih kuat, sementara depresiasi rupiah juga berada pada tingkat yang lebih rendah.
“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” ucapnya.
Dari pertemuan itu, pemerintah mengambil sejumlah pembelajaran terkait langkah antisipatif menghadapi berbagai kemungkinan ke depan. Presiden Prabowo, lanjut Airlangga, meminta jajaran terkait, termasuk Menteri Keuangan, terus memonitor regulasi yang dapat memperkuat stabilitas sektor keuangan dan prinsip kehati-hatian perbankan.
“Bapak Presiden meminta kami, Menteri Keuangan, untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial perbankan kita,” ujar Airlangga.
Kajian-kajian terhadap penguatan permodalan perbankan, lanjut Airlangga, perlu dilakukan pemerintah mengingat jumlah perbankan di Indonesia cukup banyak. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional agar tetap kuat menghadapi dinamika global.
Pertemuan itu menegaskan bahwa pendekatan kepemimpinan Presiden Prabowo lebih mengedepankan kombinasi pengalaman, kewaspadaan, dan penguatan fundamental sebagai kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional, sekaligus memastikan Indonesia tetap tangguh dan adaptif menghadapi berbagai tantangan global.
Editor: Rudy Azhary
Sumber: Presidenri.go.id











































