DIDUGA ULAH TAMBANG ILEGAL, JALAN GUNUNG ULIN MATARAMAN LONGSOR
Kabupaten Banjar — Jalan utama di Desa Gunung Ulin, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, kini berada di ambang putus. Separuh badan jalan poros kabupaten itu hilang setelah longsor hebat yang diduga dipicu aktivitas tambang batubara ilegal di area setempat.
Lubang tambang menganga tepat di sisi jalan. Ruas jalan yang semula memiliki lebar sekitar enam meter kini hanya tersisa kurang lebih tiga meter. Sisanya runtuh ke dalam galian tambang.
Di tepi jalan, terlihat spanduk putih sederhana bertuliskan “Tanah Ini Bukan Milik Tambang”, sebagai bentuk protes warga yang merasa tanah dan ruang hidup mereka dirampas.
Ketakutan warga tak hanya soal keselamatan jalan. Mereka mengaku resah karena tambang yang dianggap ilegal itu disebut-sebut dikuasai oleh sosok berpengaruh di Kabupaten Banjar. Kondisi itu membuat warga enggan bersuara lantang.
“Percuma warga kami melaporkan hal ini ke pemerintah daerah, kalau aparat desanya hanya diam,” ucap seorang warga yang meminta identitasnya disembunyikan.
Longsor sendiri dilaporkan telah terjadi tiga kali. Setiap hujan deras, warga hanya bisa berharap jalan penghubung antar desa itu tetap bertahan.
“Saya khawatir kalau tidak ditangani segera akan berdampak besar. Banyak anak sekolah dari desa lain yang melintas,” tambahnya.
Menurut penuturan warga, aktivitas tambang mulai berjalan sejak 2024, setelah pergantian kepala desa atau Pembakal Gunung Ulin. Kini, ada tiga titik tambang aktif yang beroperasi di RT 01 dan RT 07.
“Sebelumnya kami warga sepakat tidak boleh ada tambang di sini. Tapi tambang tetap masuk dan aparat desa hanya diam,” katanya.
Dampak lingkungan mulai dirasakan warga. Air sumur menjadi keruh, debit air menurun pada musim kemarau, dan udara pemukiman menjadi lebih panas serta penuh debu.
“Kalau kemarau kami bergantung pada air bersih dari BPBD,” ujar warga lainnya.
Warga mengaku perusahaan tambang memberikan kompensasi Rp15 ribu per ton batubara yang melintas. Mereka memperkirakan aktivitas truk fuso bermuatan batubara mencapai puluhan ribu ton yang keluar-masuk pada malam hingga dini hari.
“Waktu istirahat kami terganggu. Truk lewat sampai subuh, terutama di RT 01 dan RT 07. Kami takut melapor. Ada oknum preman dan aparat desa ikut terlibat,” ucapnya.
Masyarakat Gunung Ulin berharap pemerintah daerah turun tangan dan menghentikan operasi tambang sebelum bencana lebih besar terjadi.
Menindak lanjuti perihal tersebut, Kapolres Banjar AKBP dr Fadli melalui Kanit Tipidter Ipda M Rizky Febrianto Nasri mengatakan, telah mengirim anggota ke lokasi.
“Kami sudah kirim anggota untuk mengecek kelapangan langsung. Nanti hasilnya kami sampaikan lagi,” ujarnya.
