by

DIPLOMASI KEMANUSIAAN, KOTA BANJARBARU MELAWAN STUNTING

banner 468x60

Oleh: Rudy Azhary

Stunting bukanlah sekadar angka-angka mati dalam tabel statistik, bukan pula hanya persoalan tinggi badan yang tak sampai pada standar. Merujuk pada titah Kementerian Kesehatan RI, ia adalah sebuah manifestasi dari luka gizi kronis dan serangan infeksi yang berulang—sebuah bayang-bayang gelap yang mengancam nyala api generasi masa depan. Di Banjarbaru, isu ini dipandang dengan kacamata yang lebih sakral: sebagai sebuah pertaruhan martabat dan kualitas peradaban.

banner 336x280

Menyelesaikan stunting di kota yang kita cintai ini tidak semudah membalik telapak tangan. Ia menuntut keteguhan hati yang tak kunjung padam, konsistensi yang mengakar, dan simfoni kerja sama lintas sektoral. Sebab, stunting adalah muara dari kerumitan persoalan yang jika dibiarkan, akan meredupkan binar kecerdasan dan melumpuhkan produktivitas bangsa.

Menyentuh Akar: Membangun Peradaban dari Balik Pintu Rumah

Di bawah nakhoda Hj. Erna Lisa Halaby (ELH), Banjarbaru mengambil langkah berani untuk “menyerang” jantung persoalan dari hulu. Data Bapperida per April 2026 menegaskan sebuah pergeseran paradigma: penanganan stunting kini bukan lagi sekadar intervensi medis yang dingin, melainkan telah menjelma menjadi sebuah gerakan sosial yang penuh kehangatan.

Salah satu bukti otentik dari diplomasi kemanusiaan ELH adalah keberaniannya membedah faktor lingkungan sebagai akar dari gizi buruk. Melalui program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), ELH memancangkan sebuah ikhtiar ambisius: menghadirkan 100 hunian layak kepada warga dipastikan layak mendapatkannya. Langkah nyata ini bermula dari tanah Cempaka, di mana rumah-rumah yang dulunya rapuh, dan tak layak huni itu  kini bersiap menjadi tempat bernaung yang sehat dan manusiawi.

“Bagi Erna Lisa Halaby, rumah yang bernaungkan sanitasi layak dan air bersih adalah benteng pertama bagi seorang anak untuk tumbuh mekar tanpa gangguan infeksi.”

Infrastruktur Medis: Kasih Sayang yang Melampaui Jarak

Kepemimpinan ELH ditandai dengan akselerasi infrastruktur kesehatan yang masif. Beliau memastikan bahwa hak untuk sehat adalah milik setiap nyawa, mulai dari janin dalam rahim hingga senja usia para lansia, tanpa boleh terhalang oleh garis geografis maupun kasta ekonomi.

Transformasi ini hadir melalui deretan terobosan yang menyentuh nadi masyarakat:

  • Ambulans di Setiap Penjuru: Kini, tak ada lagi isak cemas karena keterlambatan. Satu unit ambulans di setiap kecamatan menjadi urat nadi mobilitas yang responsif bagi ibu hamil dan balita berisiko tinggi.
  • Presisi dalam Pantauan: Seluruh Posyandu hingga jenjang PAUD kini dipersenjatai dengan alat antropometri standar. Karena bagi ELH, setiap milimeter pertumbuhan anak harus dicatat dengan cinta dan akurasi.
  • Demokratisasi Teknologi: Akses USG kini tak lagi menjadi kemewahan milik rumah sakit besar. Sepuluh Puskesmas di Banjarbaru kini dilengkapi perangkat USG, memberikan ketenangan bagi para ibu untuk menyapa buah hati mereka melalui layar digital.
  • Sentuhan Digital (EDUMIL): Menjawab tantangan zaman, platform EDUMIL hadir membawa edukasi kesehatan ke dalam genggaman. Literasi gizi kini hanya sejauh sentuhan jari.

Torehan Emas: Menjadi Mercusuar di Kalimantan Selatan

Ikhtiar yang panjang dan sunyi ini mulai memanen hasil yang manis. Berdasarkan data SIGIZI KESGA, prevalensi stunting di Banjarbaru kini menyentuh angka 20,2 persen. Angka ini adalah sebuah kemenangan kecil yang besar maknanya, menempatkan Banjarbaru sebagai daerah dengan angka stunting terendah kedua di Kalimantan Selatan.

Strategi yang diusung sangatlah paripurna. Dimulai dari menjaga kesehatan remaja putri melalui tablet tambah darah, hingga memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi lokal yang melimpah. Pasca-kelahiran pun, pendampingan dokter spesialis anak dan kandungan turun langsung ke Puskesmas, memastikan setiap bayi mendapatkan perlindungan imunisasi yang utuh.

Harmoni Menuju Banjarbaru EMAS

Keberhasilan ini kian kokoh dengan status Open Defecation Free (ODF) yang diraih sejak 2021 dan dipertegas melalui Gerakan Rambai Emas (Gerakan Masyarakat Babarasih Baimbai Banjarbaru EMAS). Untuk kasus-kasus klinis yang berat, RS Idaman berdiri tegak di garda terdepan, di mana sepanjang tahun 2025, sebanyak 39 balita gizi buruk telah berhasil dipulihkan dan kembali ceria.

Melalui sinergi infrastruktur modern, inovasi digital, dan komitmen politik yang tak tergoyahkan, Erna Lisa Halaby telah membawa Banjarbaru menjadi mercusuar kesehatan. Visi Banjarbaru EMAS—Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera—kini bukan lagi sekadar narasi di atas kertas doa, melainkan realitas yang denyut jantungnya kian terasa di setiap sudut kota.

banner 336x280