Baca Yuks, edisi 25 Mei 2026
Oleh: Rudy Azhary
Isu pergantian posisi Wakil Wali Kota Banjarbaru mendadak hangat belakangan ini. Pertanyaan sederhananya: mau gerang (mau kah/apakah mungkin, dalam bahasa Banjar) Wali Kota mengambil langkah tersebut? Jika benar terjadi, siapakah sosok yang paling beepotensi mendampingi Erna Lisa Halaby untuk memimpin Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan ini?
Menduduki kursi Wakil Wali Kota untuk kedua kalinya, posisi Wartono tentu tak lepas dari bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Di sisi lain, PDI Perjuangan bukanlah partai pemenang pemilu di Banjarbaru. Kondisi ini tentu menjadi celah keuntungan bagi Golkar dan Gerindra yang berstatus sebagai peraih kursi terbanyak. Meski begitu, partai-partai lain dipastikan tidak akan menyia-nyiakan peluang emas tersebut.
Pertanyaan yang kemudian muncul ke permukaan: seberapa nyamankah Erna Lisa Halaby memimpin Banjarbaru di tengah situasi politik seperti ini? Apakah ia akan mematahkan isu dengan memilih tetap bertahan bersama Wartono, mencari pengganti baru, atau justru memilih berjalan sendiri? Sisa waktu masa jabatan kini menjadi alarm bagi sang penguasa. Politik akan selalu bergerak dengan caranya sendiri demi meraih dan mempertahankan kekuasaan.
PDI Perjuangan vs Koalisi Gemuk
Peta internal PDI Perjuangan kini telah berubah. Wartono tak lagi memegang kendali penuh. Tampuk kepemimpinan DPC PDI Perjuangan Banjarbaru kini berada di tangan Windi Novianto, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD. Di sisi lain, dua kader potensial mereka, Ranouli dan Qomal, tampaknya lebih memilih fokus menuntaskan tugas sebagai wakil rakyat. Ini adalah sebuah keputusan internal yang penuh kalkulasi untung-rugi demi eksistensi pertempuran pada pemilu berikutnya.
Namun, apakah Windi serta-merta dapat menggantikan posisi Wartono? Jelas tidak mudah. Partai-partai lain dalam koalisi tentu memiliki kepentingan masing-masing. Paling tidak, ada panggung politik strategis selama dua tahun ke depan yang diperebutkan sebelum pemilu berikutnya digelar. Pilihan pengganti pun otomatis melebar ke arah Golkar, Gerindra, atau koalisi partai di dalamnya.
Secara politis, Golkar berada di posisi start yang lebih diuntungkan. Gusti Rizky selaku Ketua DPD Golkar Banjarbaru kini menduduki posisi puncak sebagai Ketua DPRD. Sementara di kubu Gerindra, radar politik cenderung mengarah pada sosok Syamsuri, mengingat Neni (Ketua DPC Gerindra) terlihat lebih nyaman berperan sebagai Srikandi di gedung parlemen. Hemat kata, jika pergantian itu benar-benar terjadi, peluang kursi Wakil Wali Kota tampaknya lebih terbuka bagi figur di luar kalangan Srikandi.
Panggung Dewan dan Hak Prerogatif “Perang dingin” sangat berpotensi pecah dari gedung dewan. Manuver politik bisa saja diambil oleh figur-figur strategis lainnya. Sebut saja nama-nama seperti Jon Robert, Syahrial, Nurkhalis, hingga Ranouli. Mereka adalah deretan politisi dari Golkar, PKS, dan PDI Perjuangan.
Lagi-lagi, rasa nyaman dalam membagi panggung kekuasaan tidak boleh dikesampingkan. Pada akhirnya, semua keputusan berada di tangan Wali Kota. Dialah yang paling tahu siapa sosok yang layak dan mampu memenuhi segala kebutuhan taktis untuk mendampinginya di pemerintahan—jika skenario pergantian Wartono benar-benar menjadi kenyataan.
Birokrasi terus berjalan. Menjelang dua tahun, banyak hal terjadi. Komunikasi politik antar kepentingan beberapa membuahkan hasil. Dari Balai Kota, Erna Lisa Halaby menjalankan kekuasaan dengan cermat dan penuh kehati-hatian atas dampak administrasi birokrasi juga secara politis.
Terlepas dari segala spekulasi dan dinamika politik yang memanas, roda pemerintahan harus tetap berjalan stabil demi pelayanan publik. Selamat menikmati proses demokrasi.













































