by

TMI BANJAR TURUN KE SUNGAI ARFAT, PETANI IKAN KELUHKAN KEMATIAN MASSAL SAAT KEMARAU

banner 468x60

Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Ancaman kematian massal ikan kembali menghantui para petani ikan keramba apung di Desa Sungai Arfat, Kabupaten Banjar. Setiap musim kemarau, debit air yang turun drastis menyebabkan kadar oksigen terlarut berkurang sehingga ribuan ikan berisiko mati.

banner 336x280

Keluhan tersebut menjadi perhatian Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Banjar yang turun langsung meninjau lokasi keramba ikan di Desa Sungai Arfat, Selasa (7/7/2026), yang dipimpin Ketua DPD TMI Kabupaten Banjar, Hj Helda Rina, didampingi Sekretaris, Hermani, unsur Dinas Perikanan Banjar serta Pambakal Desa Sungai Arfat.

Ketua DPD TMI Kabupaten Banjar, Hj. Helda Rina, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan setelah pihaknya menerima laporan masyarakat mengenai ribuan ekor ikan di keramba apung milik petani mati terus berulang setiap musim kemarau.

“Hari ini kami turun langsung ke Desa Sungai Arfat. Ternyata memang ada beberapa keluhan masyarakat terkait debit air yang terus berkurang sehingga ikan-ikan banyak yang mati karena kekurangan oksigen,” ujarnya.

1001394375

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi tahun ini, tetapi hampir setiap musim kemarau selalu menyebabkan kerugian bagi para pembudidaya ikan.

Ia menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama dan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah serta instansi terkait untuk mencari solusi jangka panjang.

“Kami dari Tani Merdeka Indonesia menjadikan ini sebagai masukan, baik untuk organisasi maupun pemerintah daerah. Harus ada kolaborasi agar ditemukan solusi terbaik, karena persoalan ini terus berulang dan bahkan menyebabkan ribuan ikan mati,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Sungai Arfat, H. Iyan, membenarkan kematian ikan di keramba hampir selalu terjadi ketika musim kemarau akibat turunnya debit air secara drastis.

Menurutnya, pemerintah desa selama ini hanya bisa mengimbau para petani agar segera menjual ikan yang sudah layak panen sebelum kondisi air semakin memburuk.

“Yang jelas kematian massal ini hampir setiap tahun terjadi saat musim kemarau. Debit air turun sangat cepat sehingga ikan mati. Kami hanya bisa mengimbau warga agar ikan yang sudah besar segera dijual karena kondisi air tidak memungkinkan,” katanya.

1001394383

Ia berharap pengelolaan distribusi air dapat dilakukan lebih baik sehingga kebutuhan air bagi sungai dan saluran irigasi tetap seimbang.

Harapan serupa disampaikan petani ikan sekaligus Ketua BPD Desa Sungai Arfat, Nasrudin.

Ia meminta perhatian serius dari instansi terkait, khususnya Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan serta pemerintah daerah, agar persoalan kekurangan air yang berulang setiap tahun dapat segera diatasi.

“Kami berharap instansi terkait benar-benar memperhatikan petani ikan, khususnya di Desa Sungai Arfat. Jangan sampai setiap tahun kami mengalami kematian ikan akibat kekurangan air. Kami butuh solusi nyata agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” ujarnya.

Nasrudin juga menyampaikan apresiasi kepada DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar yang telah datang langsung melihat kondisi para pembudidaya ikan.

Menurutnya, kehadiran organisasi tersebut memberikan harapan agar aspirasi petani ikan dapat diteruskan kepada pemerintah sehingga langkah penanganan segera dilakukan.

Para petani berharap adanya pengaturan distribusi air yang lebih baik serta langkah konkret dari pemerintah agar usaha budidaya ikan di Desa Sungai Arfat tidak terus mengalami kerugian setiap kali musim kemarau tiba.

banner 336x280