Oleh: Rudy Azhary
Tintaku seketika luntur dalam suasana yang penuh keceriaan dan berjuta harapan ketika tawa, tangis, teriakan, kebebasan, balutan kasih sayang diantara mereka yang tengah memperingati Hari Down Sindrom Sedunia 2026, Minggu (26/4/2026), di Aula Gawi Sabarataan, Balai Kota Banjarbaru. Menggetarkan megahnya Balai Kota, mereka dengan penuh semangat bersorak “Aku Ada dan Aku Bisa”.

Belum lengkapnya sarana dan prasarana layanan kesehatan khusus, belum adanya kepastian ketika mereka lulus bersekolah, masih banyaknya bullying di sekolah hingga tak ada tempat berteduh sebagai tanda mereka ada dan juga sama untuk berkegiatan seperti kita pada umumnya, menjadi keluh kesah mereka kepada Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby,dan juga Anggota DPRD Kota Banjarbaru Emi Lasari, dan sejumlah pejabat pemerintah di Kota Banjarbaru. Dalam keistimewaan itu, mereka mengalahkan kekakuan protokoler yang selalu saklak dalam setiap kegiatan pemerintahan.
Meski begitu, mereka begitu sopan, dan begitu menghormati kesempatan bernyanyi, menari, dan menunjuk bakat dan keahlian mereka di hadapan Wali Kota dan petinggi kota. Menjawab keluh kesah yang disampaikan di hari istimewa itu, Wali Kota Erna Lisa Halaby menjawab bahwa Pemerintah Kota Banjarbaru juga “Ada dan Bisa” untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak yang penuh keistimewaan itu.
“Nanti saya akan koordinasi dengan Dispora agar mereka tak lagi tampil mengenakan pakaian adat dengan cara menyewa. Pemerintah Kota Banjarbaru juga akan mengecek gedung (aset,red) untuk digunakan sebagai sekretariat mereka sebagai tanda kehadiran, kepedulian dan keadilan dari Pemerintah,” jawab Wali Kota ELH.
Sesi demi sesi berlangsung penuh semangat dan optimis usai Wali Kota berpidato dengan jawaban yang selalu mereka tunggu selama ini. Sembari dalam sela waktu yang ada itu, sesekali bahkan kerap pelukan dan sapaan hangat anak-anak istimewa itu menunjukkan hasil karya mereka dalam membuat kerajinan sasirangan yang juga menjadi bagian dari rangkaian acara lelang.
Sebelumnya, obrolan singkat bersama Emi Lasari seolah menjadi gayung bersambut antara lembaga eksekutif dan legislatif. Kedua lembaga itu telah berkomitmen melalui regulasi hukum.
“Banjarbaru telah memiliki Perda sejak 2021. Kini saatnya Banjarbaru. Banyak langkah dan kebijakan yang dapat dilakukan oleh Pemerintah agar mereka juga mendapatkan keadilan dalam bentuk kebijakan pemerintahan,” ujar Emi.
Emi juga menyinggung masih perlu adanya kebijakan yang memperhatikan sarana dan prasarana juga sumber daya manusia di dunia pendidikan yang terkait dengan disabilitas termasuk anak-anak down sindrom di Banjarbaru.
Semoga peringatan Hari Down Sindrom sedunia yang juga dilaksanakan dan dihadiri langsung Wali Kota Banjarbaru dan anggota DPRD Kota Banjarbaru itu menjadi gerbang utama yang memperkuat Kota Banjarbaru sebagai kota inklusif.










































