Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Musim kemarau mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat di Kabupaten Banjar. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat mengalami lonjakan signifikan sepanjang Juli 2026, seiring munculnya kabut asap akibat kebakaran lahan di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Dr H Nooripansyah, mengungkapkan jumlah kasus ISPA yang tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 3.432 kasus pada Juni menjadi 4.920 kasus pada Juli.
“Jadi sampai hari ini data ISPA kita memang meningkat. Dari bulan Juni 3.432, di bulan Juli ini menjadi 4.920 data untuk penyakit ISPA,” ujar Nooripansyah.
Angka tersebut, menurutnya, baru berdasarkan masyarakat yang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Artinya, masih terdapat kemungkinan kasus ISPA di masyarakat yang tidak tercatat karena warga memilih tidak berobat atau hanya menganggap gejala yang dialami sebagai keluhan biasa.

Data tersebut dihimpun dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Banjar, mulai dari puskesmas pembantu, puskesmas hingga fasilitas kesehatan lainnya.
Sementara untuk Agustus, Dinkes Banjar belum melakukan pembaruan data secara menyeluruh karena baru memasuki 11 Agustus. Pembaruan data diperkirakan dilakukan dalam beberapa hari ke depan.
Anak-anak Paling Rentan
Nooripansyah mengatakan peningkatan kasus ISPA terjadi di berbagai kelompok usia. Namun, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan akibat kondisi udara yang memburuk.
Menurutnya, hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Banjar menunjukkan peningkatan angka ISPA.
Wilayah Gambut dan sejumlah kecamatan di sekitarnya tercatat cukup terdampak. Di antaranya Beruntung Baru, Tatah Makmur, Aluh-Aluh, Sungai Tabuk hingga Martapura Barat.
Namun, peningkatan kasus tidak hanya terjadi di wilayah yang berada di sekitar Gambut.
“Gambut memang lumayan meningkat. Tapi daerah Martapura, Tungkaran, kemudian daerah sana, termasuk Mataraman, ternyata angka ISPAnya juga meningkat,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan sumber kebakaran di satu wilayah. Asap juga berpotensi terbawa angin dan memengaruhi wilayah lainnya.
Tak Hanya ISPA, Kasus Diare Ikut Naik
Di tengah meningkatnya kasus ISPA, Dinkes Banjar juga mewaspadai penyakit lain yang berkaitan dengan musim kemarau, yakni diare.
Kesulitan mendapatkan air bersih menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi ketika kondisi kemarau semakin panjang.
Data Dinkes Banjar menunjukkan kasus diare pada balita meningkat dari 161 kasus pada Juni menjadi 237 kasus pada Juli.
Sementara kasus diare untuk seluruh kelompok umur juga mengalami peningkatan, dari 489 kasus pada Juni menjadi 564 kasus pada Juli.
“Jadi kita walaupun fokus di ISPA karena banyak memang berkaitan dengan ISPA, tapi tidak lupa dengan diarenya karena kesulitan air bersih,” kata Nooripansyah.
Menurutnya, kasus diare tersebut masih tersebar di sejumlah kecamatan dan belum menunjukkan satu wilayah yang secara khusus menjadi pusat peningkatan kasus.
Siapkan Pembagian Masker
Menghadapi kondisi kemarau dan munculnya kabut asap, Dinkes Banjar telah melakukan sejumlah langkah antisipasi, termasuk membagikan masker kepada masyarakat.
Nooripansyah mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar rumah saat kualitas udara terganggu agar menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut lainnya.
“Kalau memang dibutuhkan silakan menggunakan masker atau penutup lainnya. Tidak mesti masker, kain juga bisa ditutupkan, tapi memang lebih baik dengan masker,” ujarnya.
Dinkes Banjar juga berencana kembali melakukan pembagian masker kepada masyarakat bersama pemerintah daerah. Lokasi pelaksanaan masih dalam tahap koordinasi.
















































