BANJARBARU EMAS MERAJUT ZAMAN
Oleh: Rudy Azhary
Di bawah mega khatulistiwa, Banjarbaru bukanlah sekadar asma kota. Menembus waktu, daerah dengan luas wilayah 305,153 kilometer persegi itu perlahan mulai menanggalkan kekakuan jubahnya sebagai kota administratif. Kota Idaman itu bukan saja terlihat, namun lebih terasa keanggunannya yang ditenun zaman dari palung antar kekuasaan.
Penelusuran jati diri itu mulai menyentuh palung sejatinya. Dari sisi terdalam itulah, kelembutan yang diramu dengan ketulusan hati seorang Wali Kota Erna Lisa Halaby (ELH) melembutkan kekakuan instruksi, sehingga Banjarbaru menjadi lebih hidup dan kian bermakna. Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera) adalah pakemnya dalam mencapai tujuan kepemimpinannya.
Tak mengeyampingkan pemerataan, kemajuan, dan keadilan pembangunan, ELH bahkan menarik sisi terdalam dengan mengajak serta sejarah alam setiap bagian kebijakan. Salah satunya dengan cara mencurahkan perhatiannya pada sejarah kota, yakni melakukan restorasi Tugu Intan Cempaka. Langkah itu adalah awal laju pembangunan tanpa melupakan sejarah kota. Ini bagian dari menjaga kehormatan dan marwah Banjarbaru yang kini menyandang status sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan.
Pada bagian kebijakan itu, ELH mengingatkan kepada kita semua bahwasanya restorasi itu adalah upaya sakral untuk mengingatkan dan mengangkat kembali kehormatan Cempaka; bukan sebagai wilayah kecamatan atau di mana pusat ibu kota berada, namun Cempaka sebagai pusat sejarah pertambangan intan yang legendaris. ELH berkeinginan kuat menjadikan Cempaka sebagai Living Museum. Kita semua akan diajak dan dibawa melintasi ruang dan waktu, dan merasakan aroma tanah yang jujur, pusara air dalam linggangan, dan rangkaian aksara dalam doa khusyuk para leluhur. Cempaka seolah menjadi salah satu bagian yang sayang untuk dilewatkan dalam sejarah Kota Banjarbaru.
Di tangan dingin ELH, Pemerintah Kota Banjarbaru berupaya kembali mengingatkan salah satu tokoh perempuan agung yang menjadi pilar spiritual di Cempaka, Syarifah Badrun namanya. Upaya itu diwujudkan dalam bentuk film dokumenter yang di dalamnya tersirat akan kedalaman spiritual dan keberanian sosial Syarifah Badrun sebagai tokoh perempuan. Kelembutan kebijakan ELH pun perlahan kembali melunakkan kekakuan ruang-ruang publik.
Beberapa ruang publik seperti Balai Kota dan Taman van der Pijl kini menjelma menjadi ruang yang indah dan nyaman bagi semua kalangan. Tawa anak-anak, canda, dan ekspresi lintas generasi memadu merajut keindahan Kota Idaman helai demi helai, melunakkan kekakuan yang ada. Denting dan nasihat dari seni dan budaya tak lagi berbisik, dan menjadi kian harmonis. Bahkan, ruang bagi publik terus membuka dirinya untuk dilintasi dengan seksama bagi mereka yang berusaha, berolahraga, dan membersamai keluarga di akhir pekan melalui Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan Panglima Batur.
Lagi-lagi, kekakuan semakin melunak dengan megahnya festival pawai seni budaya yang menjadi rangka kehidupan kota. Suasana yang begitu inklusif. Tanpa melepaskan tugas pengabdian terdahulunya, kota ini seolah dikemas menjadi daerah yang tak lagi menempatkan seni sebagai pelengkap upacara, melainkan menjelma sebagai mesin penggerak roda ekonomi kreatif yang begitu perkasa. Hingga pada puncaknya nanti, kemegahan dan keberhasilan bukan sekadar pada fisik belaka, namun investasi generasi penerus di dalamnya.
Melintas ruang generasi, ELH dengan piawai membuka ruang-ruang untuk berdiskusi. Fokusnya tak lain mengarah pada pemberdayaan pemuda sebagai penerus selanjutnya. ELH sadar betul, kota ini tak akan kuat tanpa campur tangan ide, gagasan, kreativitas, dan keberanian anak muda mengekspresikan dirinya dalam banyak hal positif. Peradaban dan transisi generasi itu menjadi keharusan mencapai finisnya dalam rangkaian waktu yang wajib diestafetkan.
Hingga pada akhirnya, fase-fase yang dilewati itulah yang akan menghamparkan karpet merah bagi mereka generasi muda untuk menjaga marwah Kota Banjarbaru. Hingga pada akhirnya, Banjarbaru EMAS bukan dalam pengertian Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera secara fisiknya saja, namun juga menembus jati dirinya.










































