Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Kabupaten Banjar mulai memasuki babak baru pengembangan sektor pertanian. Untuk pertama kalinya, metode Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) diterapkan melalui Brigade Pangan di Desa Keramat Baru, Kecamatan Martapura Timur.
Uji perdana metode tersebut dilakukan pada lahan seluas 3 hektare. Ke depan, penerapannya akan diperluas secara bertahap hingga sekitar 60 hektare di kawasan tersebut.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, mengatakan penerapan PM-AAS diharapkan menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong pola tanam hingga dua kali panen dalam setahun.
“Ini perdana dilakukan di Kabupaten Banjar pertanian modern dengan metode PM-AAS. Untuk tahap awal di Desa Keramat Baru seluas 3 hektare, kemudian secara bertahap sekitar 60 hektare,” ujar Warsita.
Menurutnya, metode tersebut nantinya tidak hanya diterapkan di Martapura Timur, tetapi juga diarahkan ke wilayah Martapura Barat dan sejumlah kecamatan lainnya.
Salah satu perubahan utama dalam metode PM-AAS adalah pola tanam menggunakan drum seeder dengan jumlah benih yang lebih banyak dibanding pola konvensional.
Jika sebelumnya kebutuhan benih sekitar 30 kilogram per hektare, melalui metode ini kebutuhan benih bisa mencapai sekitar 100 kilogram per hektare. Konsekuensinya, kebutuhan pupuk juga harus disesuaikan dengan pola tanam tersebut.
Namun, peningkatan input tersebut dinilai sebanding dengan potensi produktivitas yang dihasilkan.
“Produksinya bisa hampir tiga kali lipat. Kalau biasanya kita hanya 3,5 ton kering panen, ini kalau di Jawa bisa 12 ton. Kalau di sini kita harapkan 8 ton. Informasi dari BRMP juga ada yang sampai 12 ton,” jelasnya.
Warsita menyebut penggunaan teknologi juga diharapkan mampu menekan kebutuhan tenaga kerja dan biaya produksi karena proses penanaman dilakukan secara lebih efisien.
“Dengan tanam langsung ini menghemat biaya, menghemat tenaga, otomatis menghemat biaya,” katanya.
Pemanfaatan sumber air menjadi salah satu faktor yang membuat Dinas Pertanian Kabupaten Banjar optimistis metode tersebut dapat dikembangkan.
Di lokasi penanaman Desa Keramat Baru, terdapat saluran air yang dinilai dapat mendukung keberlanjutan pola tanam, terutama untuk menghadapi periode sebelum musim hujan.
Warsita mengatakan saluran tersebut akan dimanfaatkan dengan sistem pompa sehingga lahan tetap bisa mendapatkan pasokan air.
“Saya melihat di sini saluran tiap tahun tidak pernah kering. Harusnya ini bisa kita pompa untuk penanaman selanjutnya sampai menjelang musim hujan. Kalau musim hujan sudah kita hentikan,” ujarnya.
Tak berhenti di lahan percontohan, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar menargetkan penerapan metode PM-AAS mencapai sekitar 2.400 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Wilayah yang masuk dalam rencana tersebut di antaranya Cintapuri, Sungai Tabuk, Beruntung Baru, Tatah Makmur, Gambut hingga Karang Intan.
Dalam penerapannya, Brigade Pangan menggunakan alat drum seeder. Menariknya, alat tersebut tidak harus selalu didatangkan dari luar karena dapat dibuat secara mandiri oleh Brigade Pangan.
Sementara itu, Pambakal Desa Keramat Baru, Muslim, mengatakan Desa Keramat Baru dipilih sebagai lokasi kegiatan setelah adanya permintaan dari BPP Martapura Timur.

“Program ini permintaan dari BPP Martapura Timur untuk mengadakan kegiatan ini dan dipilih Desa Keramat Baru karena lahannya tersedia dan personelnya juga ada,” kata Muslim.
Muslim mengakui penerapan metode PM-AAS ini merupakan pengalaman pertama bagi pemerintah desa dan masyarakat setempat. Karena itu, pihak desa masih dalam tahap mempelajari teknis pelaksanaannya.
“Kami baru pertama juga melaksanakan, jadi belum tahu sistemnya apa, programnya seperti apa. Mungkin dari pihak pertanian yang lebih mengetahui,” ujarnya.
Meski demikian, Pemerintah Desa Keramat Baru memastikan dukungan terhadap program pertanian modern tersebut.
“Secara keseluruhan Pemerintah Desa Keramat Baru mendukung, sangat mendukung sekali,” tegasnya.











