Oleh: Rudy Azhary
Beruntunglah bagi generasi yang tumbuh di era 1990 hingga 2000-an di Banjarbaru. Bagi mereka, lapangan sepakbola bukan sekadar hamparan tanah rata yang ditumbuhi rumput hijau dan garis putih pembatas. Di lapangan hijau itulah mereka menempa mimpi, mengasah bakat, menimba ilmu, sekaligus menjaga kesehatan dengan bermain sepakbola. Tak jarang, mereka menjadi bagian dari para pejuang olahraga yang mengharumkan nama daerah pada setiap turnamen bergengsi.
Sayangnya, pesatnya pembangunan kota kini perlahan mengubur mimpi-mimpi generasi penerus. Banyak lapangan sepakbola yang beralih fungsi bahkan dibongkar. Alih fungsi Stadion Mini Haji Idak menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah sepakbola di Kota Banjarbaru. Hingga kini, belum ada kejelasan dari pemerintah daerah terkait penggantian stadion yang telah hilang dan tinggal kenangan tersebut.
Deretan Klub Legendaris Sepakbola Banjarbaru
Masa kejayaan di era 90-an tentu tidak mudah dilupakan dalam dunia sepakbola Banjarbaru. Pada masa itu, denyut nadi sepakbola lokal begitu terasa hidup. Klub-klub lokal kebanggaan masyarakat tumbuh dan saling bersaing secara sportif.
Beberapa klub legendaris pada masa itu di antaranya Dirgantara FC, MGR, SIPATRA, FORGALA, PUMA, PERSELUB, SUMA PUTERA, TERATAI, dan BIMA FC. Klub-klub tersebut menjadi kawah candradimuka bagi para atlet muda Banjarbaru untuk mengisi kerangka tim daerah dan memperkuat PERSEBARU.
Klub-klub tersebut tumbuh dan berkembang berdampingan dengan fasilitas lapangan yang tersebar di berbagai penjuru kota, mulai dari Liang Anggang, Landasan Ulin, Cempaka, hingga pusat kota Banjarbaru.
Pemandangan serupa juga tersaji di kawasan Landasan Ulin yang dulunya dikelilingi oleh banyak lapangan representatif. Sebut saja Lapangan Jagung, Lapangan AURI beserta kompleks rumah sakitnya, Lapangan Batu Besi, Suma Putera Guntung Manggis, hingga fasilitas militer seperti Lapangan Denzipur dan Brimob.
Jika bergeser ke pusat kota dan wilayah lainnya, terdapat Lapangan Dr. Murdjani, Stadion Mini Haji Idak, Lapangan PUMA, Guntung Lua, Sungai Ulin, hingga pelosok Cempaka. Dahulu, setiap sudut Banjarbaru seolah memiliki ruang terbuka yang siap diubah menjadi arena bertanding setiap akhir pekan. Sejumlah nama pelatih pun menjadi tokoh yang begitu dihormati dan disegani di kala itu seperti Coach Karwani Effendi, Coach Harto, Coach Mang Dede, Coach Naryo.
Urgensi Penyelamatan Ruang Terbuka Hijau Olahraga
Hari ini, tantangan terbesar pembinaan sepakbola usia dini di Banjarbaru bukan lagi soal kurangnya minat, melainkan ketersediaan fasilitas. Alih fungsi lahan demi kepentingan komersial maupun infrastruktur telah merenggut sebagian besar lapangan legendaris di atas.
Jika kondisi ini dibiarkan tanpa proteksi tata ruang yang jelas, dikhawatirkan pembinaan bibit muda sepakbola daerah akan kehilangan arah. Lapangan sepakbola sejatinya adalah investasi sosial jangka panjang untuk menjauhkan generasi muda dari kegiatan negatif sekaligus wadah pencetak atlet profesional yang berprestasi.
Sudah saatnya pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berkomitmen menjaga dan merevitalisasi ruang terbuka hijau olahraga yang tersisa. Keberadaan lapangan sepakbola di tengah kota bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan jantung peradaban olahraga lokal yang harus tetap berdenyut demi masa depan sepakbola Banjarbaru.











