Oleh: Rudy Azhary
Tahun ini terasa penuh ujian. Memasuki akhir Oktober 2026, kemarau, kabut asap, dan angin kencang masih mengancam kehidupan sehari-hari. Bagian tersulit yang dirasakan masyarakat saat ini adalah mulai mengeringnya sumber-sumber air bersih.
Begitulah kondisi nyata di Banjarbaru, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan. Sungguh masa yang sulit. Pemerintah kini dituntut untuk senantiasa arif dan bijaksana dalam mengambil serta menjalankan setiap kebijakan.
Tentu saja, langkah dan upaya pemerintah dalam menanggulangi serta menangani bencana patut kita apresiasi. Namun, harus diakui tidak semua kebijakan berjalan sempurna dan menyentuh kebutuhan mendasar warga. Saat ini, hal yang paling dibutuhkan bukanlah pencitraan, melainkan pendataan dan penjangkauan langsung terhadap warga serta wilayah terdampak sebagai basis pengambilan keputusan.
Setiap keputusan maupun kebijakan pemerintah daerah hendaknya tervalidasi dengan baik serta dibuka secara transparan kepada publik. Bagaimanapun juga, persoalan bencana tidak pernah pandang bulu. Oleh karena itu, semua pihak berhak memberikan masukan dan saran kepada para pemangku kebijakan agar tindakan yang diambil tepat sasaran, efektif, dan bijaksana.
Salah satu contoh kebijakan yang kurang relevan adalah pembagian bantuan sembako secara acak di tempat umum. Kegiatan tersebut memang bermanfaat, tetapi dampaknya akan jauh lebih terasa jika disalurkan berdasarkan data warga yang benar-benar terdampak. Singkatnya, saat ini bukan waktunya berfokus pada panggung citra, melainkan fokus mencari dan membantu warga serta wilayah terdampak.
Warga yang berada di lokasi terdampak tentu memiliki tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi dibandingkan warga di wilayah yang aman. Karena itu, menggelar acara hiburan atau bersantai di ruang terbuka publik bukanlah pilihan yang tepat di tengah situasi darurat bencana seperti sekarang.
Pada akhirnya, muncul pertanyaan sederhana atas kebijakan yang kurang tepat tersebut: Apakah data warga terdampak itu memang ada, atau hanya sebatas laporan di atas kertas tanpa aksi nyata yang tepat sasaran?
Ayolah!!! Ketika bencana melanda tanpa memandang siapa pun, keterlibatan publik berupa masukan, kritik, dan gagasan seharusnya menjadi landasan utama bagi lahirnya kebijakan yang bijak. Mari kita mulai dari data yang akurat agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar arif, tepat, dan bermanfaat bagi masyarakat.












































