BANJARBARU EMAS ‘PELANGI DI ANTARA SEDU ALAM’
Oleh: Rudy Azhary
Alam tak pernah berkhianat, ia hanya bicara dengan bahasanya sendiri: melalui riak sungai yang meluap atau tanah yang mendadak ranum oleh hujan. Di kota ini, air bukan lagi sekadar tamu tak diundang yang membawa petaka, melainkan dialektika antara takdir Tuhan dan ikhtiar hamba-Nya. Di bawah nakhoda Wali Kota Erna Lisa Halabu (ELH), Banjarbaru sedang menulis ulang takdirnya—dari kota yang bersahabat dengan genangan, menjadi kota yang memuliakan aliran.
Simfoni di Bawah Langit EMAS
Dalam heningnya birokrasi, sebuah ambisi besar sedang berdenyut. Melalui tangan-tangan di Dinas PUPR, visi Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera) bukan sekadar akronim di atas kertas kerja. Ia adalah napas yang ditiupkan ke dalam setiap jalinan irigasi dan lekuk drainase. Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai kesejahteraan, mereka harus terlebih dahulu berdamai dengan daya rusak air.
Hingga penghujung 2025, perisai infrastruktur kota telah membentengi 34,30 persen wilayahnya dari amukan air. Namun, ikhtiar tak berhenti di sana. Dengan pandangan yang tajam menembus tahun 2030, target 46,57 persen dicanangkan sebagai harga mati. Di sini, filosofi ‘Zero Run-Off’ bukan sekadar istilah teknis, melainkan sebuah janji: bahwa tak setetes pun air hujan akan dibiarkan menjadi beban bagi bumi, sebelum ia didekap oleh kolam-kolam retensi.
Narasi dari Cempaka hingga Liang Anggang
Tiga wilayah menjadi panggung utama perjuangan ini: Cempaka, Landasan Ulin, dan Liang Anggang. Di Cempaka, di mana tanah menyimpan memori tentang luapan masa lalu, pemerintah sedang merajut asa melalui pelebaran Sungai Kuranji. Lahan-lahan dibebaskan bukan untuk menggusur kehidupan, melainkan untuk memberi ruang bagi sungai agar ia bisa mengalir tanpa harus menyapa lantai rumah warga.
Sementara di Liang Anggang, di mana rawa-rawa bisu menampung napas pasang laut dari Sungai Maluka dan Barito, pemeliharaan rutin menjadi ritual wajib. Di sana, gravitasi seringkali kalah oleh takdir alam (ROB), sehingga teknologi menjadi satu-satunya jembatan untuk memastikan air tetap melaju, tak diam dan membusuk di saluran-saluran sempit.
Teknologi: Mata Sang Penjaga
Di era ELH, Banjarbaru tak lagi meraba dalam gelap. Melalui Sistem Telemetri dan SISDA, kota ini memiliki “mata” yang tak pernah terpejam. Telemetri berdiri sebagai nabi modern yang mengabarkan curah hujan dan tinggi muka air secara real-time. Sebelum bencana sempat mengetuk pintu, peringatan dini sudah lebih dulu menyentuh gawai masyarakat—sebuah perisai digital yang menyelamatkan nyawa dan harta.
Hasilnya? Sebuah kemenangan kecil yang patut dirayakan. Dari 52 titik luka banjir yang tercatat dalam peta besar kota, kini hanya tersisa 9 titik yang masih butuh sentuhan. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah waktu tidur yang lebih nyenyak bagi para ibu, sekolah yang tak lagi libur karena genangan, dan roda ekonomi yang terus berputar tanpa takut terendam.
Epilog: Jejak yang Mengalir
Sepanjang tahun lalu, 12,5 kilometer jaringan drainase baru telah membelah tanah Banjarbaru. Ini adalah bukti sahih bahwa pemerintah tidak sedang bermain-main dengan perubahan iklim.
Empat belas embung yang kini berdiri—sebelas di antaranya lahir dari rahim APBD Banjarbaru—adalah monumen hidup. Di sana, air ditenangkan, dan di tepiannya, masyarakat berkumpul memanen kebahagiaan melalui rekreasi. Banjarbaru sedang membuktikan: bahwa dengan cinta dan teknologi, tantangan alam bisa diubah menjadi kemilau EMAS yang abadi.










































