WARISAN PEJABAT LAMA: APA KABAR TIANG KOMINFO BANJARBARU?
Oleh: Rudy Azhary
Di sejumlah sudut Kota Banjarbaru, berdiri tiang-tiang jaringan yang seolah menunggu nasibnya. Tegak, namun sunyi. Tak ada kabel yang menggantung, tak ada tanda-tanda berfungsi. Hanya berdiri sebagai penanda bahwa pernah ada rencana besar yang kini menggantung tanpa kepastian.

Tiang-tiang milik Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Banjarbaru itu kini seperti menjadi “warisan” dari pejabat lama. Sebuah pekerjaan rumah yang belum tuntas, yang kini berpindah tangan seiring bergantinya pucuk pimpinan di instansi tersebut.
Ibarat rumah tangga yang ditinggal kepala keluarga lama, persoalan ini kini berada di tangan pemimpin baru. Publik tentu berharap, pergantian pejabat tidak membuat masalah ini justru semakin tenggelam.

Sebelum rotasi jabatan terjadi, Diskominfo Banjarbaru dipimpin oleh Asep Saputra sebagai Kepala Dinas, dengan Herry Isdaryoko menjabat Kepala Bidang Komunikasi. Kini, Asep dipercaya memimpin Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru. Sementara posisi yang mereka tinggalkan telah diisi wajah baru.
Tongkat estafet kepemimpinan Diskominfo kini berada di tangan Muhammad Agus Adrian sebagai Kepala Dinas, dengan Ahmad Mawardi yang menggantikan Herry Isdaryoko sebagai Kepala Bidang Komunikasi.
Pergantian ini tentu membawa harapan baru. Namun di tengah harapan itu, tiang-tiang jaringan yang sudah terpasang di berbagai wilayah Banjarbaru masih berdiri tanpa fungsi yang jelas. Keberadaannya memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah proyek ini akan dilanjutkan, diperbaiki, atau justru dibiarkan menjadi monumen dari perencanaan yang tak pernah selesai?
Jumlahnya yang tidak sedikit membuat persoalan ini sulit diabaikan. Bagi masyarakat, tiang-tiang tersebut bukan sekadar infrastruktur, melainkan simbol dari penggunaan anggaran publik yang seharusnya memberikan manfaat nyata.
Kini, semua mata tertuju pada kepemimpinan baru Diskominfo Banjarbaru. Apakah “warisan” ini akan diselesaikan, atau justru akan tetap menjadi cerita lama yang berdiri diam di tepi jalan-jalan kota?































































