Banjarbaru, SuratKabarDigital.com – Siska Monalisa menegaskan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Banjarbaru harus benar-benar tepat sasaran, berkualitas, dan tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.
Sebagai Anggota DPRD Kota Banjarbaru Siska Monalisa menyampaikan pandangannya dalam fungsi pengawasan terhadap program yang digagas untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah tersebut. Hal ini, menjadi perhatian bersama seluruh unsur DPRD sesuai fungsi pengawasan masing-masing.
Menurutnya, secara prinsip MBG merupakan kebijakan yang sangat baik dan patut didukung karena menyasar kebutuhan dasar anak-anak, khususnya dalam pemenuhan gizi untuk menunjang tumbuh kembang dan konsentrasi belajar.
Namun, berdasarkan aspirasi dan laporan masyarakat di wilayah Liang Anggang, masih terdapat sejumlah catatan penting dalam pelaksanaannya.
“Wilayah Liang Anggang yang sebagian masyarakatnya tergolong kurang mampu seharusnya menjadi prioritas dalam memastikan kualitas dan pemerataan program,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa anak-anak tidak cukup hanya mendapatkan makanan berbasis tepung semata. Menu MBG, lanjutnya, harus memperhatikan kecukupan protein dan kandungan gizi seimbang agar benar-benar berdampak terhadap peningkatan kesehatan dan daya pikir siswa.
Selain aspek gizi, ia juga menyoroti persoalan lingkungan yang muncul dari distribusi makanan. Penggunaan kemasan plastik sekali pakai dinilai perlu dikurangi, terutama pada bulan Ramadan saat volume sampah rumah tangga cenderung meningkat.
“Tambahan kemasan plastik dari program ini berpotensi menambah beban lingkungan. Alternatif ramah lingkungan harus mulai dipertimbangkan,” tegasnya.
Siska berharap distribusi MBG berjalan merata dan konsisten, kualitas makanan dijaga secara optimal, serta penggunaan plastik dapat ditekan melalui inovasi kemasan yang lebih berkelanjutan.
“Gizi anak harus diperkuat, wilayah kurang mampu harus diprioritaskan, dan sampah plastik harus ditekan. Jangan sampai program yang baik justru menimbulkan persoalan baru di kemudian hari,” pungkasnya.
(Randi, red)











































