Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – SuratKabarDigital.com – Menyusul peristiwa tragis yang menewaskan satu orang dan melukai satu lainnya di Desa Sungai Sipai, Kabupaten Banjar—yang diduga dipicu oleh interaksi lewat aplikasi MiChat—Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Banjar menyerukan perenungan kolektif atas arus deras perubahan sosial dan digital yang kini melanda masyarakat. Sekretaris LDNU Banjar, M. Ali Syahbana, menegaskan bahwa teknologi bukanlah akar masalah, namun degradasi nilai dan kurangnya penguatan iman dalam kehidupan sehari-hari menjadi titik krusial yang kerap diabaikan. “Teknologi tidak salah. Tapi jika nilai-nilai kita tidak ikut mengiringi perubahan zaman,…
Baca selengkapnya >>>>>>Tag: M Ali Syahbana
FENOMENA BENDERA ONE PIECE, ALI SYAHBANA AJAK MASYARAKAT BANGUN DIALOG BUKAN REAKSI
Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Menjelang Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, warna-warni semangat nasional mulai terasa di berbagai daerah. Namun, di tengah meriahnya kibaran Merah Putih, muncul sebuah fenomena unik yang menyedot perhatian publik—bendera One Piece, simbol bajak laut dari serial anime Jepang, turut dikibarkan di bawah bendera nasional. Simbol bajak laut Topi Jerami itu terlihat di sejumlah rumah warga, permukiman, bahkan area publik. Fenomena ini pun viral di media sosial dan memicu perdebatan. Sebagian masyarakat memandangnya sebagai bentuk ekspresi anak muda yang kreatif, sementara yang lain menganggapnya kurang tepat di…
Baca selengkapnya >>>>>>APA YANG PALING BERHARGA DI DUNIA INI? JAWABAN YANG TAK LEKANG OLEH ZAMAN
Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Pertanyaan tentang apa yang paling berharga di dunia telah mengemuka sepanjang sejarah manusia. Seiring peradaban berkembang, dari perkampungan sederhana hingga kemegahan istana, dari sudut-sudut pasar hingga ruang-ruang pesantren, pertanyaan ini tak pernah kehilangan gaungnya. Zaman boleh berganti, namun pencarian atas jawaban itu tetap hidup. Sebagian orang menjawab: uang. Dengan uang, hampir segalanya tampak bisa dibeli—kenyamanan, kekuasaan, hingga pengaruh. Namun, benarkah uang adalah jawaban final. Sekretaris LDNU Kabupaten Banjar, M. Ali Syahbana, mengatakan bahwa kenyataan sering menunjukkan sebaliknya. “Banyak orang kaya justru hidup dalam kegelisahan, merasa sepi…
Baca selengkapnya >>>>>>TERJEBAK FEED DAN FOMO, LDNU BANJAR INGATKAN BAHAYA MEMBANDINGKAN DIRI DI MEDSOS
Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Di tengah arus deras media sosial yang menampilkan kehidupan orang lain secara glamor dan tanpa cela, banyak orang justru terperangkap dalam jebakan perbandingan sosial yang membahayakan kesehatan mental. Fenomena ini menjadi sorotan Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Banjar, M. Ali Syahbana, dalam sebuah kajian yang digelar Selasa (15/7/2025). Menurutnya, budaya membandingkan diri dengan kehidupan orang lain, apalagi yang hanya ditampilkan dalam potongan-potongan ‘sempurna’ di media sosial, telah menjadi pemicu utama menurunnya kebahagiaan dan meningkatnya kecemasan di tengah masyarakat. “Kita hanya melihat hasil, bukan proses.…
Baca selengkapnya >>>>>>ALI SYAHBANA SOROTI NARKOBA SEBAGAI KRISIS SOSIAL, BUKAN SEKADAR MASALAH KRIMINAL
Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Di tengah kemajuan zaman yang menawarkan serba instan dan konektivitas tanpa batas, pemuda Indonesia justru berada di persimpangan genting: antara berkembang menjadi agen perubahan atau terjerumus dalam jurang narkoba. Pegiat sosial sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Banjar, Ali Syahbana, menyoroti fenomena ini dengan sudut pandang yang berbeda. Ia menilai, persoalan narkoba bukan hanya soal pelanggaran hukum, tapi juga soal kehilangan arah dan minimnya ruang aman bagi generasi muda. “Hari ini narkoba tak lagi hadir sembunyi-sembunyi. Ia masuk lewat genggaman, melalui media sosial, bahkan menyusup ke lingkungan sekolah…
Baca selengkapnya >>>>>>FENOMENA “TAMAT SEMBAHYANG” DINILAI CERMINAN KRISIS ILMU, ALI SYAHBANA AJAK PENDEKATAN EDUKATIF DAN PEMBINAAN
Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Munculnya ajaran kontroversial di salah satu desa di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, yang mengklaim seseorang dapat meninggalkan salat karena telah mencapai tingkat spiritual tertentu, mendapat respons tajam dari publik dan tokoh agama. Namun di tengah gelombang kecaman, muncul suara yang mengajak pendekatan lebih mendalam. Salah satunya datang dari M. Ali Syahbana, pemuda asal Kabupaten Banjar yang dikenal sebagai pengamat sosial-keagamaan, hukum, dan kebudayaan. Ali menilai fenomena ajaran “tamat sembahyang” bukan sekadar bentuk penyimpangan, tetapi juga refleksi dari krisis pengetahuan keagamaan dan sistem sosial…
Baca selengkapnya >>>>>>