by

JEJAK PERJUANGAN SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI MENDUNIA, KEMENTERIAN KEBUDAYAAN ANGKAT KETELADANANNYA

banner 468x60

BANJARBARU, SuratKabarDigital.com – Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari tidak hanya tercatat dalam sejarah Indonesia. Ulama sekaligus pahlawan nasional kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan, itu juga meninggalkan jejak keilmuan dan perjuangan hingga Afrika Selatan.

banner 336x280

Kisah perjalanan tokoh yang mendapat pengakuan internasional tersebut kembali diangkat Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui kegiatan Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman, di Auditorium Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali perjalanan hidup, perjuangan, serta pemikiran Syekh Yusuf kepada masyarakat. Nilai-nilai yang diwariskannya dinilai masih relevan, terutama dalam memperkuat persatuan, kebinekaan, dan kehidupan sosial di tengah masyarakat.

Penelaah Teknis Kebijakan Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Ishak Octovianus Manafe, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf yang telah ditetapkan sebagai peringatan UNESCO.

Menurutnya, ketokohan Syekh Yusuf perlu terus diperkenalkan agar perjuangan dan pemikirannya tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga sumber pembelajaran bagi generasi sekarang.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin nilai-nilai ketokohan beliau sebagai pahlawan nasional terus dikenal dan dikembangkan oleh masyarakat. Warisan pemikirannya dapat menjadi sumber informasi dan pembelajaran, baik dalam memahami ajaran keislaman maupun membangun kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Ishak.

Ia menilai, salah satu pelajaran penting dari perjuangan Syekh Yusuf adalah semangat persatuan di tengah keberagaman. Nilai tersebut dinilai tetap dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Yang paling pokok adalah kebinekaan melalui persatuan. Perjuangan apa pun membutuhkan rasa bersatu untuk mencapai tujuan. Selain itu, kita juga perlu membangun semangat untuk terus berkembang dan menjaga sumber daya alam yang kita miliki, termasuk melestarikannya bagi generasi mendatang,” jelasnya.

Pemilihan Kalimantan Selatan sebagai lokasi kegiatan juga memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan keilmuan Islam di Nusantara. Ishak menyebut pengaruh pemikiran para ulama terdahulu berkembang melalui hubungan antargenerasi, termasuk dengan tokoh-tokoh yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Kalimantan Selatan.

Salah satu ulama yang disinggung dalam kegiatan tersebut adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Keterkaitan ini diharapkan dapat mendorong perhatian lebih besar terhadap sejarah dan warisan ulama lokal.

Staf Ahli Wali Kota Banjarbaru Bidang Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan, Ir. Abdussamad, ST., MT., mengapresiasi Kementerian Kebudayaan yang memilih Banjarbaru sebagai lokasi refleksi sejarah tersebut.

Menurutnya, kegiatan di Museum Lambung Mangkurat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal tokoh bangsa sekaligus memahami pentingnya menjaga warisan sejarah dan kebudayaan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Kementerian Kebudayaan karena kegiatan ini turut memperkenalkan keberadaan dan ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari, terlebih beliau telah mendapat pengakuan UNESCO. Ini juga menjadi dorongan bagi kami untuk semakin memperhatikan dan memperjuangkan tokoh-tokoh ulama dari Kalimantan Selatan,” ujar Abdussamad.

Ia berharap, pengenalan Syekh Yusuf dapat menjadi pemantik bagi daerah untuk mengangkat tokoh ulama lokal, termasuk Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, agar semakin dikenal luas dan memperoleh pengakuan lebih besar di tingkat nasional.

Syekh Yusuf Al-Makassari lahir di Lakiung, Gowa, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626. Sejak muda, ia menempuh perjalanan panjang untuk memperdalam ilmu agama, mulai dari Cikoang, Banten, Aceh hingga kawasan Arab.

Selain dikenal sebagai ulama, Syekh Yusuf juga terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Pada masa konflik di Banten, ia mendukung Sultan Ageng Tirtayasa dan melanjutkan perlawanan setelah sang sultan ditangkap oleh Belanda.

Dalam perjuangannya, Syekh Yusuf memimpin sekitar 4.000 orang dari berbagai kelompok, termasuk Banten, Bugis, Makassar, dan Jawa, melalui strategi gerilya.

Perlawanan tersebut membuat pemerintah kolonial mengasingkannya. Pada 1684, ia dibuang ke Sri Lanka. Meski berada jauh dari tanah kelahirannya, Syekh Yusuf tetap mengembangkan kegiatan keilmuan dan karya-karyanya dikenal hingga Nusantara.

Pada 1693, ia kembali dipindahkan ke Tanjung Harapan, yang kini dikenal sebagai Cape Town, Afrika Selatan. Di tempat pengasingan itu, Syekh Yusuf tetap berdakwah dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Muslim setempat.

Ia turut mengembangkan sejumlah tarekat, di antaranya Qadiriyah, Syattariyah, dan Rifa’iyah. Syekh Yusuf wafat pada 22 Mei 1699 di kawasan Tanjung Harapan.

Atas perjuangan dan pengabdiannya, Syekh Yusuf ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1995 melalui Keputusan Presiden Nomor 071/TK/1995. Kiprahnya juga mendapat penghormatan di Afrika Selatan. Mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela bahkan pernah menyebutnya sebagai salah satu putra terbaik Afrika.

Melalui refleksi 400 tahun kelahirannya, Kementerian Kebudayaan berharap keteladanan Syekh Yusuf tidak berhenti sebagai kisah masa lalu. Semangat persatuan, keberanian, keilmuan, dan perjuangannya diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda, sekaligus mendorong pelestarian sejarah dan kebudayaan daerah.

banner 336x280