Banjarbaru, SuratKabarDigital.com – Cedera keseleo (sprain) dan otot tertarik (strain) menjadi salah satu keluhan yang sering dialami masyarakat, terutama saat berolahraga, beraktivitas fisik berat, atau mengangkat beban berlebihan. Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Kota Banjarbaru mengedukasi pentingnya penanganan awal yang tepat melalui metode RICE.
Direktur RSD Idaman Kota Banjarbaru, dr. Danny Indrawardhana, mengatakan penanganan yang dilakukan pada 24 hingga 48 jam pertama setelah cedera sangat menentukan proses pemulihan.
“Sprain merupakan cedera pada ligamen atau jaringan yang menghubungkan tulang akibat terkilir, sedangkan strain terjadi pada otot atau tendon yang mengalami tarikan berlebihan. Keduanya sering dianggap sepele, padahal jika tidak ditangani dengan benar dapat memperpanjang masa penyembuhan,” ujarnya.
Menurut dr. Danny, metode RICE menjadi langkah pertolongan pertama yang sederhana namun efektif untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan akibat cedera jaringan lunak.
RICE merupakan singkatan dari Rest (istirahat), Ice (kompres dingin), Compression (penekanan), dan Elevation (meninggikan bagian tubuh yang cedera).
“Langkah pertama adalah menghentikan aktivitas dan mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera. Selanjutnya lakukan kompres dingin menggunakan es yang dibungkus kain selama 15 hingga 20 menit setiap beberapa jam. Kemudian gunakan perban elastis jika terjadi pembengkakan dan posisikan bagian yang cedera lebih tinggi dari jantung,” jelasnya.
Ia menegaskan, penggunaan es tidak boleh langsung ditempelkan ke kulit karena berisiko menyebabkan kerusakan jaringan kulit. Selain membantu mengurangi rasa sakit, metode tersebut juga bertujuan mempercepat proses pemulihan dan mencegah cedera bertambah parah.
Meski demikian, dr. Danny mengingatkan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis apabila kondisi cedera tidak kunjung membaik.
“Jika nyeri atau pembengkakan tidak berkurang setelah 48 jam, rasa sakit sangat hebat, atau bagian tubuh yang cedera sulit digerakkan bahkan mengalami perubahan bentuk, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan,” katanya.
Ia berharap edukasi tersebut dapat membantu masyarakat memahami langkah awal penanganan cedera sekaligus mencegah komplikasi yang lebih serius akibat penanganan yang tidak tepat.
“Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa pertolongan pertama yang benar dapat mempercepat pemulihan dan mengurangi risiko cedera menjadi lebih berat,” tutup dr. Danny.










































