by

RSD IDAMAN BANJARBARU SIAPKAN ANTREAN TERAPI ANAK LEWAT SIPOPI, PASIEN PEDIATRI MAKIN BANYAK

banner 468x60

Banjarbaru, SuratKabarDigital.com – Meningkatnya jumlah pasien anak yang membutuhkan layanan rehabilitasi medik mendorong RSD Idaman Banjarbaru melakukan pembenahan sistem pelayanan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah persoalan akses dan antrean pasien pediatri.

banner 336x280

Manajemen RSD Idaman Banjarbaru menggelar focus group discussion (FGD) bersama perwakilan masyarakat pada Jumat (21/8/2026), khusus membahas penguatan pelayanan rehabilitasi medik untuk pasien anak.

Direktur RSD Idaman Banjarbaru, dr Danny Indrawardhana, mengatakan FGD tersebut menjadi ruang bagi pihak rumah sakit untuk membuka diri terhadap masukan pengguna layanan. Terlebih, jumlah pasien pediatri yang membutuhkan rehabilitasi medik terus bertambah.

“Kami menyadari ada kelemahan dalam sistem yang ada. Sehingga kita mencoba untuk membuka diri, khusus soal pelayanan tematik ini, agar terutama pengguna layanan bisa memberikan banyak masukan kepada kami,” ujar Danny saat diwawancarai.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah antrean. Banyaknya pasien membuat rumah sakit perlu menyiapkan sistem yang lebih mudah dan terukur agar pelayanan rehabilitasi anak dapat diakses tanpa menambah beban pasien maupun orang tua.

Karena itu, RSD Idaman berencana mengembangkan aplikasi layanan yang selama ini sudah dimiliki, yakni Sipopi.

Danny mengatakan Sipopi nantinya akan dikembangkan untuk mendukung sistem antrean pasien rehabilitasi medik pediatri. Dengan sistem tersebut, masyarakat diharapkan dapat memperoleh akses antrean secara lebih mudah.

“Rencananya nanti khusus untuk antrean pasien ini karena cukup banyak, nanti akan kami buat di Sipopi,” tegasnya.

Penanganan Tak Hanya di Rumah Sakit

Danny menekankan, peningkatan layanan rehabilitasi anak tidak cukup hanya dilakukan di dalam rumah sakit. Penanganan juga perlu melibatkan orang tua dan lingkungan tempat anak tinggal.

Menurutnya, koordinasi antara rumah sakit, orang tua pasien dan Dinas Kesehatan menjadi penting agar terapi atau stimulasi yang dibutuhkan anak dapat dilanjutkan di rumah.

“Harapannya nanti antara orang tua pasien, Dinas Kesehatan, dan kami bisa bikin sebuah koordinasi lagi agar penanganannya tidak hanya di kami, tapi bisa juga dilakukan di rumah,” harapnya.

Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu menjaga keberlanjutan stimulasi anak, sekaligus memperluas jangkauan layanan rehabilitasi medik di luar fasilitas rumah sakit.

Sementara itu, salah satu perwakilan masyarakat, Retno Sulisetiyani dari Yayasan Ruang Pelita Kalimantan, menyambut baik FGD yang membahas pelayanan rehabilitasi medik pediatri tersebut.

Menurutnya, forum seperti ini penting untuk melahirkan gagasan baru, terutama dalam mempermudah akses anak yang membutuhkan layanan rehabilitasi.

Ia juga menyoroti pemanfaatan teknologi untuk mengatasi persoalan antrean. Sistem digital diharapkan dapat membuat pasien, khususnya anak berkebutuhan khusus, memperoleh pelayanan secara lebih mudah dan tidak terhambat persoalan administrasi maupun antrean.

“Harapannya mereka bisa mengakses itu dengan mudah, tidak terhambat,” kata Retno.

Selain teknologi, Retno juga mendorong adanya upaya memperluas edukasi kepada masyarakat melalui pembentukan kader yang memiliki kemampuan memberikan stimulasi dasar kepada anak-anak yang membutuhkan.

“Kami juga mendukung ide untuk bisa menjangkau masyarakat menjadi kader-kader untuk memberikan stimulasi pada anak-anak yang membutuhkan,” tutupnya.

banner 336x280