Banjarbaru, SuratKabarDigital com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru tidak hanya menyisakan persoalan luasnya area terbakar, tetapi juga perhatian terhadap bantuan bagi para relawan yang sejak beberapa bulan terakhir berjibaku memadamkan api.
Anggota DPRD Kota Banjarbaru Fraksi Golkar, Siska Monalisa, meminta penyaluran bantuan untuk penanganan karhutla dilakukan secara adil, merata, dan sesuai peruntukan. Menurutnya, relawan dan petugas lapangan harus menjadi salah satu pihak yang mendapat perhatian serius karena mereka berada langsung di garis depan ketika kebakaran terjadi.
“Karhutla bukan persoalan politik, melainkan kemanusiaan. Bantuan harus diberikan merata dan sesuai peruntukan,” ujar Siska.
Siska menilai transparansi menjadi hal penting dalam distribusi bantuan karhutla. Terlebih, para relawan lokal telah terlibat dalam penanganan kebakaran sejak Juli 2026.
Ia meminta jangan sampai terjadi kesenjangan antara bantuan yang dijanjikan dengan bantuan yang benar-benar diterima para relawan di lapangan.
“Jangan sampai bantuan yang dijanjikan berbeda dengan yang diterima relawan,” katanya.
Menurut Siska, perhatian terhadap relawan tidak sebatas persoalan bantuan logistik. Dukungan terhadap mereka juga diperlukan agar proses pemadaman dapat berjalan maksimal, mengingat relawan lokal memiliki pemahaman terhadap karakter wilayah yang mereka tangani.

Hal itu dinilai penting, khususnya untuk kawasan Liang Anggang dan Landasan Ulin Selatan yang memiliki sejumlah titik rawan karhutla.
Siska mendorong pemerintah memperkuat koordinasi dengan perusahaan, masyarakat, serta kelompok relawan lokal. Ia menyebut relawan memiliki keunggulan karena memahami akses menuju lokasi kebakaran, kondisi lahan, hingga karakter kawasan gambut yang kerap menyulitkan proses pemadaman.
“Relawan lokal memahami akses, kondisi lahan gambut, dan titik-titik rawan kebakaran. Karena itu, mereka harus dilibatkan dan dirangkul dalam penanganan,” tegasnya.
Belum Ada Indikasi Kesengajaan
Sementara itu, terkait penyebab kebakaran di kawasan Liang Anggang, Siska mengatakan sejauh ini belum terdapat indikasi yang mengarah pada unsur kesengajaan.
Ia menyebut kondisi cuaca panas dan kekeringan, ditambah karakteristik lahan gambut, menjadi faktor yang harus diwaspadai karena dapat membuat api lebih mudah muncul dan sulit dipadamkan.
Meski demikian, Siska mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di kawasan yang kondisi lahannya sedang kering.
Hal sederhana seperti memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang, menurutnya, tidak boleh dianggap sepele karena dapat menjadi pemicu kebakaran di tengah kondisi lahan yang mudah terbakar.
“Jangan menganggap hal kecil sebagai sesuatu yang sepele. Dalam kondisi lahan kering, masyarakat harus lebih berhati-hati,” ujarnya.
Siska menegaskan penanganan karhutla tidak bisa dibebankan kepada satu instansi saja. Pemerintah, BPBD, pemadam kebakaran, perusahaan, masyarakat, hingga relawan harus bergerak dalam satu koordinasi.
Menurutnya, keterlibatan seluruh pihak menjadi penting untuk mencegah kebakaran meluas sekaligus memastikan keselamatan petugas dan relawan yang berada di lapangan.
“Keselamatan dan kemanusiaan harus menjadi prioritas. Semua pihak perlu dirangkul,” pungkasnya.











