Kabupaten Banjar, SuratKabarDigitial.com — Anggota DPRD Kabupaten Banjar sekaligus Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Banjar, M. Ali Syahbana, menyuarakan keprihatinan mendalam atas masih tingginya kasus HIV di daerahnya. Namun di balik persoalan kesehatan itu, ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar justru bukan semata virusnya, melainkan stigma dan sikap mengucilkan para penyintas.
Ali menegaskan, penanggulangan HIV tidak boleh berhenti pada angka statistik, tetapi harus menyentuh sisi kemanusiaan.
“Setiap ODHA tetap memiliki martabat dan hak yang sama sebagai manusia dan warga negara,” ujarnya.
Dalam perspektif Islam rahmatan lil ‘alamin, kata Ali, orang dengan HIV bukan sosok yang patut dijauhi, melainkan saudara yang sedang diuji dan wajib ditolong, dirawat, serta dijaga kehormatannya.
Ia menilai sikap menghakimi, memberi cap buruk, atau membuka aib penyintas justru bertentangan dengan prinsip dasar agama: kasih sayang, kepedulian, dan perintah menjenguk orang sakit.
“Kalaupun sebagian kasus berawal dari perilaku yang keliru, itu urusan seseorang dengan Tuhannya. Secara sosial, tugas kita adalah mencegah penularan, mengedukasi, dan memberi mereka ruang untuk memperbaiki diri,” tegasnya.
Ali juga membantah anggapan keliru yang sering memicu ketakutan. HIV, jelasnya, tidak menular lewat aktivitas harian seperti bersalaman, makan bersama, ataupun hidup bertetangga. Karena itu, tidak ada alasan rasional untuk menjauhi ODHA. Justru stigma membuat banyak orang takut memeriksakan diri dan enggan berobat, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi dan potensi penularan makin luas.
Lebih jauh, ia mendorong penanganan HIV di Banjar agar berani menyasar “kelompok kunci” seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, hingga kelompok berisiko lainnya. Bukan melalui pendekatan koersif, tetapi dengan cara persuasif, rahasia, dan non-diskriminatif sehingga mereka merasa aman untuk menjalani tes dan pengobatan.
Ia juga mengajak seluruh elemen Banjar—tokoh agama, tokoh adat, organisasi pemuda, hingga sekolah—untuk menjadikan isu HIV sebagai gerakan bersama.
“Jihad kita hari ini adalah jihad melawan kebodohan, ketakutan, dan perilaku yang tidak bertanggung jawab, bukan memerangi mereka yang sedang sakit,” ujarnya.


































































