Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Konflik sosial yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak selalu dipicu oleh persoalan besar. Di balik gesekan kecil hingga ketegangan di masyarakat, ada satu akar masalah yang kerap luput disadari: “keakuan”.
Sekretaris LDNU Kabupaten Banjar, Ali Syahbana, mengungkapkan bahwa rasa keakuan yang tertanam sejak masa kecil menjadi pemicu utama berbagai konflik, baik dalam lingkup pribadi maupun sosial.
“Keakuan bukan sekadar sikap sombong biasa, melainkan keyakinan bawah sadar seperti ‘saya harus selalu benar’ atau ‘pengakuan orang lain menentukan nilai diri saya’. Pola ini mengendalikan respons kita tanpa disadari,” ujarnya.
Menurutnya, ketika keakuan mendominasi, seseorang cenderung menempatkan diri sebagai pusat segalanya. Dampaknya, muncul konflik dalam interaksi sehari-hari hingga ketegangan di tengah masyarakat luas.
Kondisi ini juga diperparah oleh bias kognitif, di mana seseorang menganggap pandangannya paling benar meski bersifat subjektif. Akibatnya, kemampuan berpikir objektif menurun dan hubungan sosial bisa retak hanya karena dorongan mempertahankan ego.
Dalam perspektif tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah, konsep ini telah lama dibahas oleh ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin. Ia mengaitkan keakuan dengan dua penyakit hati, yakni ujub dan takabbur.
Ujub dijelaskan sebagai kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, seperti merasa paling baik dalam amal atau ibadah. Sementara takabbur merupakan bentuk lahiriahnya, yaitu merendahkan orang lain melalui sikap maupun ucapan.
Sebagai solusi, Al-Ghazali menawarkan pendekatan spiritual seperti husnuzan (berprasangka baik kepada orang lain) dan muhasabah (introspeksi diri). Keduanya menjadi bagian dari proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa dalam tradisi tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah.
“Tazkiyatun nafs adalah proses transformasi pikiran bawah sadar dengan kesadaran bahwa manusia hanyalah ‘abdullah,” jelas Ali.
Pendekatan ini juga dikenal melalui tahapan takhalli (mengosongkan diri dari sifat buruk) dan tahalli (menghias diri dengan akhlak mulia), yang terus diajarkan oleh para ulama Nahdlatul Ulama dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Ali menegaskan, meninggalkan keakuan bukan berarti kehilangan kepercayaan diri. Justru sebaliknya, seseorang bisa menjadi pribadi yang seimbang—tegas tanpa sombong dan percaya diri tanpa merendahkan orang lain.
“Mulailah dari hal sederhana, seperti belajar mendengarkan tanpa langsung menyanggah dalam percakapan sehari-hari,” pungkasnya.



















