by

BELAJAR DARI ROROTAN, BANJARBARU SIAP UBAH SAMPAH JADI ENERGI DAN GERAKAN WARGA

banner 468x60

Banjarbaru, SuratKabarDigital.com – Keseriusan Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membenahi persoalan sampah kian nyata. Tak sekadar wacana, langkah konkret dilakukan melalui studi tiru ke Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, dengan fokus mengadopsi sistem pengelolaan sampah modern yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

banner 336x280

Pada hari kedua kunjungan, Sabtu (04/04/2026), rombongan Pemkot Banjarbaru menelusuri langsung berbagai praktik terbaik pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan akhir yang bernilai ekonomi.

Kunjungan diawali di Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara. Di lokasi ini, rombongan mendapat gambaran komprehensif terkait roadmap pengelolaan sampah yang dimulai dari sumber, dilanjutkan ke fasilitas pengolahan, hingga pemanfaatan akhir.

Dari paparan tersebut, terungkap bahwa kunci keberhasilan tidak hanya terletak pada teknologi, melainkan juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

Pembelajaran berlanjut di Pusat Edukasi KIE RBU (Recycle Business Unit), yang menjadi contoh integrasi antara edukasi lingkungan dan pengolahan sampah kering. Di sini, sampah tak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sumber ekonomi baru.

Tak hanya itu, rombongan juga mengunjungi kawasan ProKlim RW 01 Tugu Utara. Di kawasan ini, pengelolaan sampah berbasis masyarakat diterapkan secara inovatif, mulai dari budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), pembuatan pellet dari sampah, hingga sistem fermentasi menggunakan drop point bambu.

Puncak kunjungan terjadi di RDF Plant Rorotan, fasilitas modern yang mampu mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi ini mengubah sampah non-organik menjadi bahan bakar dengan nilai kalor setara batu bara muda.

Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, menegaskan bahwa hasil studi tiru ini akan menjadi dasar perubahan sistem pengelolaan sampah di daerahnya.

“Ini menjadi pengalaman dan wawasan yang sangat berharga. Harapannya bisa segera kita implementasikan di Banjarbaru dengan menyesuaikan kondisi wilayah,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa perubahan harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga, melalui kebiasaan memilah sampah.

“Tidak bisa sendiri, ini harus melibatkan lurah, camat, dan seluruh masyarakat. Kita harus mengubah perilaku agar sampah selesai dari sumbernya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, mengungkapkan pihaknya akan menyusun strategi konkret pasca kunjungan tersebut.

“Setiap kelurahan akan memetakan jumlah penduduk hingga tingkat RW, termasuk potensi sampah. Kami akan mulai dari beberapa rumah, dengan target penambahan minimal 10 rumah per bulan yang melakukan pemilahan,” jelasnya.

Ia mengakui, saat ini pengelolaan sampah di Banjarbaru masih didominasi pola kumpul-angkut-buang, sehingga perubahan pola pikir masyarakat menjadi tantangan utama.

Rangkaian kunjungan ditutup di RPTRA Rorotan Indah I dan TPS 3R setempat, yang menunjukkan bagaimana partisipasi warga mampu menekan volume sampah secara signifikan melalui sistem pemilahan dan pengolahan berbasis komunitas.

banner 336x280