Oleh: Rudy Azhary – Pemimpin Redaksi Suratkabardigital.com
Sebelum melangkah lebih jauh, marilah sejenak kita merenung. Di balik peringatan dan cobaan Sang Khalik, selalu ada panggung yang disediakan Tuhan agar kita tergerak untuk peduli dan berbagi di tengah ancaman bencana. Panggung itu adalah perwujudan rasa syukur atas nikmat-Nya. Ada yang berbahagia, ada pula yang bersedih; ada yang hidup dalam kecukupan, ada pula yang sedang berkesusahan. Ruang-ruang itu begitu luas—bahkan lebih luas dari langit dan dalamnya lautan—yang telah Tuhan sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat baik.
Hingga pertengahan September 2026, kemarau tak jua reda di Banjarbaru. Dampaknya nyata: kebakaran hutan dan lahan, kepulan asap, hingga antrean warga memburu air bersih. Peringatan ini datang tanpa memihak dan berlaku adil untuk semua. Tak peduli miskin atau kaya, pejabat atau warga biasa, semuanya diuji dengan cobaan yang sama. Seyogianya, sikap kemanusiaan dijunjung jauh lebih tinggi ketimbang kebijakan apa pun.
Sepanjang kemarau ini, asap pekat menyelimuti keseharian di Banjarbaru. Namun, para malaikat hadir dalam wujud nyata sikap dan tindakan para relawan serta orang-orang yang peduli saat hutan dan lahan terbakar. Mereka takkan pulang sebelum api benar-benar padam. Inilah panggung kebaikan yang disediakan Sang Khalik dan dimanfaatkan oleh mereka atas nama kemanusiaan.
Pemerintah turut mengambil kebijakan; para pelajar diberikan keringanan dalam proses belajar demi menghindari ancaman asap yang pekat. Langkah ini setidaknya dapat melindungi pelajar dan guru dari bahaya kabut asap karhutla.
Ujian dari Sang Khalik ini masih berlangsung. Sejumlah wilayah di Banjarbaru mulai merasakan pasokan air bersih yang terganggu. Sekali lagi, panggung kebajikan telah disediakan Tuhan dengan sangat luas. Pada pertengahan September itu pula, langkah nyata dan kepedulian dari Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) Kota Banjarbaru patut diapresiasi. Mereka berkolaborasi bersama Pemko Banjarbaru mendistribusikan air bersih untuk masyarakat terdampak.
Terlepas dari status mereka sebagai aparatur sipil negara (ASN), aksi kemanusiaan di tengah cobaan ini menjadi pemicu semangat kepedulian bersama. Berbuat kebaikan tidak selalu harus disembunyikan, terutama jika hal itu menjadi fondasi kita hidup sebagai sesama makhluk-Nya. Panggung tersebut masih sangat luas untuk diisi oleh siapa saja yang memiliki ketulusan hati untuk peduli.
Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan kita bersama. Panggung telah dibentangkan oleh Tuhan, maka berbuat baiklah dengan cara apa pun yang mampu kita lakukan. Jika kita belum mampu berbuat banyak, doa adalah ikhtiar terbaik untuk melewati ujian ini bersama-sama.
“Kita memang sedang paceklik air bersih, tetapi jangan biarkan kita paceklik jati diri.”
Semoga Banjarbaru dan wilayah lain yang terdampak kemarau segera terhindar dari kesulitan. Semoga para relawan serta setiap insan yang berbuat kebaikan senantiasa berada dalam lindungan Tuhan, serta dilimpahkan kesehatan dan keselamatan.














