Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Kelangkaan bahan bakar jenis solar di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar mulai menimbulkan dampak serius terhadap sektor pertanian. Di Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat, aktivitas pengolahan lahan dilaporkan terganggu karena petani kesulitan memperoleh pasokan energi untuk menjalankan mesin mereka.
Situasi ini bukan sekadar persoalan distribusi BBM, melainkan berpotensi mengancam stabilitas produksi pangan daerah. Sejumlah petani mengaku tidak bisa mengoperasikan mesin diesel untuk membajak sawah maupun mengalirkan air irigasi, yang berimbas pada tertundanya masa tanam.
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Banjar, Hj Helda Rina menilai, kondisi tersebut harus segera ditangani secara serius karena menyangkut rantai ketahanan pangan. Ia menegaskan, sektor pertanian tidak boleh terhambat hanya karena persoalan pasokan energi.
“Kalau ini dibiarkan, bukan hanya petani yang terdampak, tapi juga produksi pangan kita ke depan. Padahal kita sedang mendorong program swasembada pangan,” ujarnya.
Helda yang juga menjabat sebagai Ketua Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar menyoroti bahwa kelangkaan solar telah menjadi persoalan berulang yang memerlukan solusi jangka panjang, bukan sekadar penanganan sementara.
Ia mendorong adanya langkah konkret, salah satunya dengan menghadirkan skema distribusi khusus bagi petani. Menurutnya, kerja sama antara kelompok tani dan pihak penyedia energi perlu dibangun untuk memastikan ketersediaan solar tetap terjaga saat musim tanam.
“Perlu ada sistem yang menjamin petani tidak lagi berebut solar di lapangan. Misalnya dengan penyediaan pom khusus atau jalur distribusi yang lebih terarah,” jelasnya.
Selain itu, kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Dexlite juga dinilai semakin memperberat beban petani, terutama bagi mereka yang tidak sepenuhnya bergantung pada solar bersubsidi.
Helda menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal persoalan ini agar segera mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan pemangku kebijakan terkait. Ia berharap ada sinergi lintas sektor untuk menjaga keberlangsungan pertanian di Kabupaten Banjar.
“Jangan sampai persoalan energi ini justru melemahkan sektor yang menjadi tulang punggung pangan kita,” tutupnya.










































