by

ANTISIPASI KARHUTLA, PULUHAN WARGA BENUA RIAM BANGUN SEKAT BAKAR SEPANJANG 6 KILOMETER

banner 468x60

Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kemarau panjang membuat warga Desa Benua Riam, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, memilih bergerak lebih awal.

banner 336x280

Sebanyak 59 warga desa turun bergotong royong membuat sekat bakar sebagai langkah antisipasi untuk mencegah api meluas apabila karhutla terjadi di wilayah tersebut.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari perangkat desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Linmas, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga warga Desa Benua Riam.

Pambakal Desa Benua Riam, Jamjori, mengatakan pembuatan sekat bakar dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau yang cukup panjang.

Menurutnya, wilayah Aranio telah lebih dari empat bulan tidak diguyur hujan. Kondisi tersebut membuat lahan menjadi semakin kering dan meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.

“Karena kondisi sekarang kemarau panjang, kami sangat khawatir terjadi karhutla. Sudah lebih dari empat bulan wilayah Aranio belum ada hujan,” ujar Jamjori.

Ia menuturkan, sejumlah kejadian karhutla yang muncul di berbagai wilayah menjadi peringatan bagi masyarakat Desa Benua Riam untuk tidak menunggu api muncul terlebih dahulu.

Karena itu, warga memilih melakukan langkah pencegahan dengan membuat sekat bakar. Keberadaan sekat tersebut diharapkan dapat memperlambat pergerakan api sekaligus memudahkan proses penanganan jika kebakaran benar-benar terjadi.

Gotong royong pembuatan sekat bakar tersebut dilaksanakan selama tiga hari dengan target panjang sekat mencapai sedikitnya 6.000 meter atau sekitar enam kilometer.

Namun, langkah warga Benua Riam bukan hanya untuk melindungi kawasan hutan. Di sekitar lokasi juga terdapat perkebunan milik masyarakat yang turut terancam apabila terjadi kebakaran.

Yang tak kalah penting, kawasan tersebut juga menjadi jalur aset vital warga berupa jaringan pipa air bersih.

Jamjori menjelaskan, pipa tersebut menjadi salah satu sarana utama yang menyuplai kebutuhan air bersih ke Desa Benua Riam. Jika terjadi kebakaran dan jaringan pipa ikut terdampak, distribusi air bersih kepada masyarakat berpotensi terganggu.

“Di sana selain hutan, banyak juga perkebunan warga. Ada aset warga berupa pipa air bersih yang sangat penting karena pipa itu yang menyuplai air bersih ke Desa Benua Riam,” jelasnya.

Menurut Jamjori, kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi pemerintah desa bersama masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Upaya pencegahan dinilai jauh lebih penting dilakukan sebelum api muncul dan sulit dikendalikan.

“Kami terlebih dahulu membuat sekat bakar agar seandainya terjadi karhutla, kami lebih mudah dalam penanggulangannya,” katanya.

banner 336x280