TAK ADA TUTUR MENGALAHKAN TITAH, MENUJU HARI JADI BANJARBARU
Oleh: Rudy Azhary
Pupuslah sudah hasrat berpesta pora dan berdansa pada April 2026 ini—setidaknya bagi mereka yang berkepentingan. Di balik gedung kokoh dengan gemerlap bebatuan khas cempaka, sesuatu yang tak kasatmata tiba-tiba menggelegar: amarah yang menembus batas, tanpa aba-aba di balik kokohnya tembok jutaan akik permata.
Guntur datang lebih dahulu sebelum hujan, bahkan sebelum awan sempat memberi tanda. Tak ada kelabu, tak ada kemendungan. Alam seolah memilih diam, enggan mengabarkan apa pun kepada manusia yang tengah sibuk dengan gemerlapnya sendiri.
Di tengah batas-batas sayembara yang telah lebih dulu dikumandangkan, titah justru belum hadir. Ia tak pernah difatwakan, tak pula dituliskan dalam lembaran mana pun. Kekosongan itulah yang kemudian menjelma menjadi gema—guntur yang menggelegar tanpa mengenal mendung, tanpa menyapa alam, tanpa memberi isyarat tentang kemurkaan yang datang.
Tak ada lagi pesta pora. Tak ada pula sayembara yang benar-benar layak dirayakan. Yang tersisa hanyalah rasa gentar—akibat ulah mereka yang, barangkali, telah melampaui batas sikap, bahkan melebihi tuannya sendiri.
Sekecil apa pun persoalan, tak bijak kiranya diangkat menjadi sayembara. Terlebih ketika sang tuan tak pernah melihat, mendengar, apalagi menyampaikan dengan lantang—baik tersirat maupun tersurat. Di situlah barangkali letak pangkalnya: ketika suara mendahului titah, dan kehendak berjalan tanpa arah.
Pesta, sejatinya, tak memerlukan kemewahan perjamuan. Ia tak butuh gemerlap yang justru berpotensi menghamburkan makna dan menutup peluang kehidupan serta kemajuan. Jika amarah sang tuan adalah bentuk kebenaran, maka biarlah ia menjadi pelajaran—agar semua kembali memahami bagaimana seharusnya bersyukur, terutama di hari kelahiran sebuah kota.
Menuju Hari Jadi Banjarbaru, pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang bagaimana merayakan, melainkan bagaimana memaknai. Sebab bagi kaum jelata, tak ada tutur yang mampu mengalahkan titah. Apa yang terjadi, terjadilah. Segalanya berjalan sebagaimana telah direncanakan dalam rencana-Nya.
Bersyukur pun bukan semata perkara uang atau persembahan. Ia lahir dari sikap, dari cara manusia menempatkan diri di antara sesama dan semesta. Dari sanalah rasa itu tumbuh—perlahan, namun pasti—hingga pada akhirnya menghadap dengan sendirinya ke hadirat-Nya.
Di tengah sunyi yang menggantikan gemerlap, mungkin inilah saat yang paling jujur untuk kembali mengerti: bahwa makna perayaan bukan terletak pada riuhnya acara, melainkan pada kesadaran akan batas, hormat pada titah, dan kebijaksanaan dalam bersikap.










































