Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com – Kasus pembacokan yang terjadi di Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, dan viral di media sosial memunculkan keprihatinan berbagai pihak. Peristiwa tragis yang diduga dipicu kondisi psikologis pelaku itu kini menjadi sorotan serius, terutama terkait pentingnya layanan kesehatan mental dan pengelolaan tekanan hidup di tengah masyarakat.
Dalam kejadian tersebut, seorang pria diduga mengalami halusinasi hingga membacok tiga orang. Satu korban dilaporkan meninggal dunia, sementara pelaku telah diamankan aparat kepolisian untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Pengamat sosial sekaligus praktisi pikiran bawah sadar, M Ali Syahbana, menilai kasus kekerasan seperti ini tidak bisa hanya dipandang dari sisi kriminal semata. Menurutnya, ada persoalan tekanan batin dan kondisi emosional yang juga perlu mendapat perhatian serius.
“Ketika seseorang memendam tekanan hidup terlalu lama tanpa ruang penyaluran, kondisi emosionalnya bisa tidak stabil. Dalam situasi tertentu, kontrol logika dapat melemah hingga memicu tindakan di luar kesadaran normal,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, manusia memiliki dua sistem kendali utama, yakni pikiran sadar yang berfungsi mengatur logika dan moral, serta pikiran bawah sadar yang berkaitan dengan insting dan emosi. Saat tekanan hidup terus menumpuk, keseimbangan keduanya bisa terganggu.
Menurut Ali, fenomena munculnya bisikan atau dialog internal sebelum seseorang melakukan tindakan ekstrem dapat dipahami sebagai bentuk tekanan bawah sadar yang tidak terkendali.
“Pikiran bawah sadar bekerja seperti auto-pilot. Saat kontrol rasional melemah, seseorang bisa bertindak destruktif tanpa mempertimbangkan hubungan sosial maupun dampaknya,” jelasnya.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti bendungan yang terus menahan tekanan tanpa saluran pembuangan hingga akhirnya jebol. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah mulai memikirkan layanan khusus bagi masyarakat untuk berkonsultasi terkait tekanan hidup dan kesehatan mental.
Ali mengusulkan adanya Program Layanan Manajemen Pikiran Sehat yang dapat diakses masyarakat secara gratis dan aman. Program tersebut dinilai penting sebagai langkah pencegahan agar persoalan psikologis tidak berkembang menjadi tindakan berbahaya.
“Kadang orang hanya butuh tempat bercerita dan didengarkan. Hal sederhana seperti itu bisa membantu mengurangi beban batin seseorang,” katanya.
Kasus di Sungai Pinang ini pun menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental perlu mendapat perhatian lebih luas, tidak hanya di lingkungan keluarga, tetapi juga melalui dukungan layanan sosial dan pemerintah daerah.










































