Banjarbaru, SuratKabarDigital.com – Masa nifas yang berlangsung hingga 42 hari setelah persalinan sering kali dianggap sebagai masa pemulihan biasa. Padahal, periode tersebut menjadi salah satu fase paling krusial bagi kesehatan ibu karena berbagai komplikasi serius dapat muncul dan berpotensi mengancam nyawa.
Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Kota Banjarbaru, dr. Danny Indrawardhana, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan tanda-tanda bahaya yang muncul setelah melahirkan.
“Masa nifas bukan sekadar masa pemulihan, tetapi periode yang memerlukan perhatian khusus. Banyak kasus komplikasi yang justru terjadi setelah persalinan, sehingga ibu dan keluarga harus mengenali gejala-gejala yang memerlukan penanganan segera,” ujarnya.
Menurut dr. Danny, beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain perdarahan hebat setelah melahirkan, demam tinggi akibat infeksi nifas, sesak napas, nyeri dada, kejang, hingga gangguan psikologis seperti depresi postpartum.
Ia menjelaskan, perdarahan postpartum masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu. Selain itu, infeksi nifas juga dapat berkembang cepat apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis.
“Tanda-tanda seperti darah keluar berlebihan, suhu tubuh tinggi, nyeri hebat, kejang, atau sesak napas harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu kondisi semakin parah,” tegasnya.
Selain komplikasi fisik, dr. Danny juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental ibu pascamelahirkan. Perubahan hormon, kelelahan, dan kurangnya dukungan keluarga dapat memicu gangguan psikologis yang memerlukan pendampingan khusus.
RSD Idaman mengimbau seluruh keluarga untuk ikut berperan aktif memantau kondisi ibu selama masa nifas guna mencegah risiko komplikasi yang dapat membahayakan keselamatan ibu maupun bayi.
“Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan kondisi ibu. Semakin cepat tanda bahaya diketahui, semakin besar peluang penanganan berhasil dilakukan,” katanya.










































