Kabupaten Banjar, SuratKabarDigital.com — Di tengah memanasnya dinamika di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), muncul desakan dari akar rumput agar kembali menentukan haluan dengan meneguhkan nilai-nilai awal.
Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Banjar muncul sebagai “oasis ketenangan” mengajak jamaah untuk meredam konflik, menengahi perbedaan, dan kembali pada semangat persaudaraan.
Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Banjar, M. Ali Syahbana, menyerukan agar seluruh warga NU di Banjar kembali berpegang pada khittah 1926.
“Kami memandang dinamika internal PBNU sebagai panggilan untuk kembali pada khittah 1926, yaitu tawassuth, i’tidal, dan tasamuh,” ujar Ali. Nilai-nilai moderasi, keseimbangan, dan toleransi ini menurutnya adalah ruh sejati NU sejak kelahirannya.
Ali menegaskan bahwa NU bukan ajang perebutan kekuasaan atau panggung konflik. “NU sejak awal bukan gelanggang konflik. Ini rumah besar yang dibangun dengan akhlak dan kearifan para kiai,” tegasnya.
Meski gejolak terjadi di tingkat pusat, jamaah di Banjar tetap konsisten pada tugas dakwah dan sosial mereka.
“Di akar rumput Banjar, jamaah tetap istiqamah. Itu bukti bahwa esensi NU lebih agung daripada gejolak struktural manapun,” kata Ali.
Kegiatan rutin seperti pengajian, taklim, serta pelayanan sosial bagi masyarakat tetap berjalan seperti biasa, menunjukkan bahwa semangat ukhuwah jauh lebih kuat daripada gesekan kekuasaan.
Bagi Ali, situasi ini justru menjadi momentum untuk memperteguh solidaritas melalui proses islah rekonsiliasi batin dan kolektif yang tumbuh dari kerendahan hati, bukan dari keberpihakan.
“Islah itu lahir dari hati yang jernih, bukan dari keberpihakan. Ini saatnya saling merangkul, bukan saling menyudutkan,” katanya.
Ali juga mengajak seluruh unsur nahdliyin agar berhati-hati dalam menanggapi dinamika yang berkembang cepat baik di media sosial maupun ruang publik.
“Mari kita tahan narasi yang memecah belah. Saling memaafkan. Fokus pada ta’lim mufid serta amar ma’ruf nahi mungkar dengan qaulan layyina,” ujarnya.
Bagi Ali, ketenangan adalah ciri khas NU sejak masa para muassis. Menjaga kesejukan di tengah turbulensi organisasi adalah bagian dari khidmah perwujudan dakwah dan amal shalih.
Seruan M. Ali Syahbana dari Banjar menjadi semacam “warna baru” di tengah memanasnya polemik di tubuh PBNU terutama di saat muncul desakan pengunduran diri terhadap Ketua Umum yang menjabat dan absennya sejumlah Pengurus Wilayah di rapat koordinasi tingkat pusat.
Dengan teguh mengusung semangat toleransi, persaudaraan, dan khidmah nyata di akar rumput, NU Banjar memberikan contoh bahwa kekuatan sejati suatu organisasi bukan ditentukan oleh posisi struktural melainkan oleh komitmen anggota untuk menjaga ukhuwah dan melayani umat.













