Kalsel, Suratkabardigital.com – Menurunnya Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Provinsi Kalimantan Selatan dipengaruhi lambatnya akselerasi pembangunan kebudayaan daerah dibadingkan perkembangan yang terjadi di tingkat nasional maupun provinsi lain. Demikian dikatakan Eddy Suwarto, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel. Berdasarkan hasil evaluuasi tahun 2024-2025, nilai IPK Kalsel tercatat pada angka 29,5 atau masih di bawah rata-rata nasional yang berada pada 31 poin.
Dijelaskan Eddy, berdasarakan data tahun sebelumnya, ada tiga dimensi yang poinnya masih kurang, yakni dimensi ekonomi budaya, dimensi ekspresi budaya, dan dimensi pendidikan. Hasil evaluasi itu menurutnya menjadi dasar bagi Disdikbub Kalsel untuk Menyusun berbagai langkah percepatan pembangunan kebudayaan yang berorientasi pada inklusivitas dan keberlanjutan.
Disdikbud Kalsel, dilanjutkan Eddy, telah merumuskan empat langkah strategis. Pertama, penguatan kelembagaan melalui pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah. Tugasnya adalah memberikan rekomendasi kepada Gubernur terkait pengembangan seni dan budaya dalam program pembangunan daerah. Selain itu, pemerintah daerah juga akan meningkatkan tipologi museum dari Tipe B menjadi Tipe A guna memperkuat tata kelola serta birokrasi pengelolaan museum.
Langkah selanjutnya, ujar Eddy adalah memperkuat kolaborasi program dengan melibatkan mahasiswa, sekolah, komunitas seni, serta menjalin sinergi dengan Badan Pengelola Geopark Meratus. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah menghadirkan Geopark Meratus sebagai ruang komunikasi dan kolaborasi para pegiat seni dan budaya.
“Kita juga akan berkolaborasi dengan Badan Pengelola Geopark Meratus dan menyiapkan Geopark Meratus sebagai wadah para pegiat seni dan budaya bertukar pikiran agar program yang kita siapkan bisa berjalan secara inklusif,” kata Eddy.
Masih kata Eddy, strategi yang ketiga adalah revitalisasi sarana dan prasarana museum untuk meningkatkan kualitas layanan dan menarik kembali minat kunjungan masyarakat. Upaya ini dilakukan setelah angka kungjungan museum di Kalsel mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah keempat, lanjut Eddy ialah pembangunan Banua Culture Hub serta penyusunan ensiklopedia budaya berbasis dara spasial. Progra tersebut bertujuan menyediakan ruang ekspresi bersama sekaligus memperkuat pendataan pelaku dan lembaga seni secara valid dan berbasis bukti.
Menurut Eddy, keberhasilan pembangunan kebudayaan tak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dan pelaku budaya di daerah. “Essensinya adalah insklusif dan keberlanjutan. Kita akan melakukan refocusing kegiatanyang sebelumnya bersifat ekslusif menjadi program yang merangkul semua elemen. Kami berharap pemivu perkembangan budaya lahir dari bawah. Jika tidak tumbuh dari bawah, maka tidak akan berkelanjutan,” ucapnya.
Dengan keterlibatan dan sinergi lintas sektor serta seluruh kebapaten kota di Kalsel, diharapkan berbagai program tersebut akan mampu mendorong peningkat IPK sekaligus memperkuat ekosistem seni dan budaya daerah secara berkelanjutan.
Editor: Rudy Azhary
Sumber: MC Kalsel











