Kalimantan Selatan, SuratKabarDigital.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai mengencangkan strategi menghadapi tantangan pangan 2026. Tak hanya fokus pada peningkatan produksi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel kini menitikberatkan pada penguatan infrastruktur penyimpanan melalui rehabilitasi lumbung pangan dan pembangunan gudang modern di wilayah sentra produksi.
Langkah ini dinilai krusial untuk mengantisipasi gangguan distribusi akibat bencana seperti banjir, sekaligus menjaga stabilitas harga komoditas strategis.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, menegaskan bahwa keberadaan lumbung pangan bukan sekadar tempat menyimpan hasil panen, melainkan bagian dari sistem perlindungan pangan daerah.
“Rehabilitasi lumbung pangan sangat penting, terutama ketika kita mengalami banjir atau kondisi tertentu yang memengaruhi distribusi dan produksi pangan,” ujarnya di Banjarbaru, Senin (23/2/2026).
Produksi padi dan jagung di Kalsel disebut cenderung meningkat, meski fluktuatif setiap musim. Tanpa fasilitas penyimpanan memadai, potensi kerugian pascapanen bisa membayangi petani.
Karena itu, selain memperbaiki lumbung yang sudah ada, pemerintah juga menyiapkan pembangunan gudang (storage) untuk komoditas jagung yang telah melalui proses pengeringan (dryer).
Menurut Syamsir, penyimpanan yang baik setelah pengeringan sangat menentukan kualitas dan daya tahan jagung. Sementara untuk padi, pengelolaan yang tepat akan berdampak langsung pada mutu beras dan harga jualnya.
“Jika kita siapkan lumbung dan gudang yang memadai, komoditas bisa dikelola lebih baik, harga lebih stabil, dan nilai tambah meningkat,” jelasnya.
Beberapa daerah yang menjadi tulang punggung produksi pangan di Kalsel akan diprioritaskan dalam program ini. Untuk komoditas padi, sentra produksi berada di:
Kabupaten Barito Kuala
Kabupaten Tanah Laut
Kabupaten Banjar
Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Wilayah-wilayah tersebut akan menjadi fokus rehabilitasi maupun pembangunan lumbung baru, menyesuaikan kemampuan anggaran daerah di tengah penyesuaian anggaran nasional.
“Kita tetap prioritaskan sentra produksi,” tegasnya.
Tak berhenti pada penyimpanan, Pemprov Kalsel juga mendorong penguatan hilirisasi. Selama ini, sebagian daerah masih mendistribusikan gabah ke luar wilayah. Ke depan, pemerintah ingin mendorong distribusi dalam bentuk beras agar nilai tambah dinikmati lebih besar oleh penggilingan padi dan masyarakat setempat.
“Harapannya bukan hanya gabah yang keluar, tetapi berasnya. Nilai ekonomisnya tentu lebih tinggi,” tambah Syamsir.













