Kalimantan Selatan, SuratKabarDigital.com – Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalimantan Selatan mempercepat pengembangan sektor peternakan dan perkebunan melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan hilirisasi berbasis limbah. Langkah ini diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus ketahanan energi daerah.
Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, mengatakan pihaknya menggandeng berbagai mitra strategis untuk mendorong peningkatan populasi sapi serta pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.
Pada sektor tanaman pangan, Disbunnak melihat potensi limbah tanaman sebagai sumber pakan ternak sapi. Skema ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada limbah perkebunan, khususnya kelapa sawit, sekaligus mendukung program pengembangan sapi yang sedang berjalan.
Di sektor kehutanan, Disbunnak mendorong perusahaan pemegang konsesi untuk ikut mengembangkan peternakan sapi.
Salah satu implementasi dilakukan oleh Hutan Rindang Banua di Kabupaten Tanah Bumbu yang telah mengembangkan usaha sapi serta kemitraan peternakan di sejumlah kabupaten.
Selain itu, lahan eks reklamasi tambang juga dilirik sebagai kawasan potensial pengembangan peternakan sapi.
Keterlibatan sektor pertambangan dinilai dapat menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang produktif sekaligus mendukung percepatan peningkatan populasi sapi di Kalsel.
Pada aspek hilirisasi, Disbunnak mendorong pengolahan limbah menjadi pakan dan pupuk organik. Di Kabupaten Tabalong, telah terbangun unit pengolahan limbah skala mini yang dikelola peternak rakyat untuk memproduksi pupuk organik. Produk tersebut dimanfaatkan petani, termasuk untuk perkebunan karet.
Sementara itu, industri pengolahan pakan berbasis limbah kelapa sawit telah beroperasi di Kabupaten Tanah Bumbu dalam skala industri dan melayani kebutuhan pakan sapi maupun unggas.
Ke depan, Disbunnak Kalsel menargetkan penguatan pengembangan pupuk organik dan energi berbasis limbah sawit melalui kerja sama riset dan implementasi teknologi.
Tahun ini, Disbunnak akan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), National Institute of Green Technology (NIGT) Korea, serta Korea Institute of Industrial Technology (KITECH).
Kerja sama tersebut difokuskan pada riset, kajian, serta implementasi pembangunan pabrik pupuk organik dan energi dari limbah sawit. Tahap awal meliputi penyusunan regulasi dan studi kelayakan (feasibility study/FS) terpadu untuk pabrik pakan, pupuk, dan energi.
Disbunnak juga telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia terkait usulan pembangunan pabrik pakan dan pupuk berbasis limbah. Saat ini, implementasi pabrik pupuk sudah berjalan meski masih berskala industri rakyat, sedangkan pabrik pakan dari limbah sawit telah tersedia pada skala industri.












