Oleh: Rudy Azhary
Kota ini bukanlah daerah yang tumbuh dari hasil eksploitasi perut bumi. Sebaliknya, Banjarbaru justru mengeksploitasi jati dirinya melalui beragam strategi di tengah ketiadaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah.
Dengan luas wilayah 305,153 kilometer persegi yang mencakup lima kecamatan dan 20 kelurahan, kota ini membuktikan bahwa kemajuan bisa dirajut melalui ide, inovasi, dan keberanian dalam menyusun strategi pembangunan.
Puncak Indeks Pembangunan Manusia
Jika dirunut secara saksama, Banjarbaru mencatatkan capaian luar biasa pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dengan skor 82,20, Banjarbaru memegang nilai tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan, bahkan melampaui angka rata-rata nasional.
Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari empat pilar utama:
Rata-rata Lama Sekolah: 11,07 tahun.
Harapan Lama Sekolah: 14,87 tahun.
Pengeluaran per Kapita: Rp15,361 juta.
Angka Harapan Hidup: Mencapai usia 75,44 tahun.
Ekonomi yang Melaju Kencang
Di sektor ekonomi, Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Banjarbaru pada tahun 2025 menjadi yang terdepan di Kalimantan Selatan dan nasional. Berada di angka 6,49%, pertumbuhan ini jauh melampaui Provinsi Kalsel (5,22%) dan angka nasional (5,11%).
Tanpa tambang, sektor jasa menjadi napas utama PDRB. Sektor Transportasi dan Pergudangan menyumbang kontribusi fantastis sebesar 29,72 persen. Diikuti oleh sektor Konstruksi sebesar 13,36 persen, serta Perdagangan sebesar 10,77 persen.
Meskipun terus melaju, tantangan sosial tetap menjadi perhatian. Hingga 2025, tercatat penduduk kategori miskin sebanyak 11.065 jiwa, dengan garis kemiskinan pada angka Rp814.292. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,75 persen, masih jauh lebih kompetitif dibandingkan kota tetangga seperti Banjarmasin yang menyentuh angka 6,49 persen.
Reformasi Birokrasi dan Visi “Banjarbaru EMAS”
Dalam tata kelola pemerintahan, Banjarbaru menunjukkan tren positif. Indeks Reformasi Birokrasi (2021-2025) terus meningkat hingga mencapai angka 83,36 (Predikat A). Selain itu, nilai SAKIP juga naik menjadi 68,91 dibandingkan tahun sebelumnya.
Kini, di usianya yang ke-27 tahun sejak memisahkan diri dari Kabupaten Banjar, kota ini dipimpin oleh Wali Kota Erna Lisa Halaby (ELH) dan Wakil Wali Kota Wartono. Keduanya membawa visi besar: Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera).
Untuk mewujudkan transformasi tersebut, duet ELH-Wartono mengusung empat misi utama yang berfokus pada infrastruktur berkualitas, SDM berakhlak mulia, tata kelola pemerintahan transparan, serta transformasi ekonomi yang menyejahterakan.
6 Janji Politik dan 15 Program Prioritas
Sebagai pemimpin pilihan rakyat, pasangan ini telah menetapkan enam janji politik strategis, mulai dari pembangunan infrastruktur jalan, gedung Islamic Center, sarana olahraga, gedung graha, penataan permukiman layak, hingga pembangunan sentra UMKM.
Guna memastikan visi “Banjarbaru EMAS” tercapai, disusunlah 15 Program Prioritas, di antaranya:
Barakat Gawi Banjarbaru: Renovasi rumah tidak layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Semangat Bersekolah: Bantuan perlengkapan sekolah untuk keluarga tidak mampu.
Sungai dan Drainase Lancar: Normalisasi sungai kota guna mencegah banjir.
Optimalisasi Penanggulangan Karhutla: Peningkatan sarana prasarana tanggap bencana.
Sanitasi Aman Sekolah: Revitalisasi fasilitas sanitasi di lingkungan sekolah.
Keberdayaan UMKM: Identifikasi dan penguatan potensi UMKM lokal.
Pencegahan Stunting: Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita.
Pengendalian Inflasi: Operasi pasar murah dan program Farm Field Day.
Memperelok Kota: Revitalisasi taman, penataan kabel fiber optik, dan PJU.
Pencegahan KDRT: Optimalisasi perlindungan dalam rumah tangga.
Banjarbaru Bebas Macet: Upaya strategis penanganan titik kemacetan.
Kesejahteraan Non-ASN: Bantuan sosial bagi petugas kebersihan hingga pemakaman.
Pelayanan Prima: Transformasi budaya pelayanan publik yang responsif.
Optimalisasi Anggaran: Pembatasan belanja kegiatan yang tidak terukur.
Cepat Tanggap Kesehatan: Layanan darurat kesehatan di setiap kecamatan.
Melalui langkah-langkah terukur ini, Banjarbaru membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya alam bukanlah penghalang untuk menjadi kota yang unggul dan mandiri.













































