Home PEMPROV KALSEL BANYAK BENIH BANTUAN RUSAK DI TANGAN PETANI, DPKP KALSEL FOKUS EVALUASI AKHIR TAHUN

BANYAK BENIH BANTUAN RUSAK DI TANGAN PETANI, DPKP KALSEL FOKUS EVALUASI AKHIR TAHUN

0
BANYAK BENIH BANTUAN RUSAK DI TANGAN PETANI, DPKP KALSEL FOKUS EVALUASI AKHIR TAHUN

Banjarbaru, SuratKabarDigital.com – Menjelang penutup tahun anggaran 2025, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan mendapati satu persoalan penting yang menjadi catatan serius: benih bantuan pemerintah berkualitas baik justru banyak mengalami kerusakan di tingkat petani akibat penyimpanan yang tidak tepat.

Temuan ini terungkap dalam evaluasi akhir tahun yang dilakukan bidang tanaman pangan DPKP Kalsel sebagai dasar penyusunan program 2026.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP Kalsel, Rahmawati, mengatakan masih banyak petani yang tidak segera menanam benih bantuan karena terkendala waktu olah lahan maupun kondisi cuaca, seperti banjir dan genangan air. Akibatnya, benih disimpan secara seadanya hingga kualitasnya turun.

“Sering kali benih hanya disimpan di teras rumah, kena panas, bahkan hujan. Padahal saat kita salurkan benih dalam kondisi sangat bagus,” ujarnya di Banjarbaru, Jumat (5/12/2025).

Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian besar pemerintah daerah, terutama terkait peningkatan pemahaman petani mengenai manajemen penyimpanan benih yang benar sebelum ditanam.

“Ke depan kita harus memperkuat sosialisasi atau bimbingan teknis tentang tata cara penyimpanan benih di tingkat petani,” tegasnya.

Menurut Rahmawati, keberhasilan program pemerintah tak hanya bergantung pada kualitas benih yang disalurkan, tetapi juga kesiapan teknis di lapangan. Penyuluh pertanian akan dimaksimalkan sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi langsung kepada petani.

“Banyaknya benih yang gagal tumbuh akibat penyimpanan yang tidak sesuai menjadi catatan penting yang harus segera ditindaklanjuti,” tambahnya.

DPKP Kalsel menargetkan hasil evaluasi program sepanjang 2025 akan menjadi tolok ukur dalam memperkuat strategi peningkatan produksi tanaman pangan di tahun 2026—mulai dari peningkatan kompetensi petani, efisiensi penyaluran benih, hingga mitigasi risiko cuaca ekstrem.

“Kita harus pastikan aktivitas yang direncanakan benar-benar menjawab kebutuhan petani di lapangan,” pungkasnya.